BLOG DALAM KEADAAN SEDANG DI REPARASI||MOHON MA`AF APABILA MASIH BANYAK KEKURANGAN||TERIMAKASIH TELAH BERKUNJUNG

Izinkan Aku Memantaskan Diri

Setiap hari, aku diberi satu tugas oleh Yang Mengawasi Kita dari Atas Sana: mensyukuri bahwa dirimu ada.

Memang tak tiap waktu kita bisa bertatap muka, namun kau tetap meyakinkanku bahkan di saat kita tak sedangbersama. Rasa sayangmu tenang, tanpa ekspektasi berlebihan atau pertengkaran karena hal kekanakan. Aku memang takmerasakan “kekacauan” seperti saat pertama kali jatuh cinta, namun denganmu hubungan dibawa ke tingkat yang lebih dewasa.

Bersamamu, cinta jelas ada ujungnya. Aku tahu kemana harus melangkah, takperlu takut hilang arah.

Tapi tunggu. Tak perlu terburu-buru menarik tanganku menuju pelaminan yang satu itu.

Lagipula, aku masih harus berbenah dan memperbaiki diri. Tak semudah itu menjadi seorang suami. Saat aku sudah lebih baik dari ini, kau boleh meminta tanganku dan membawanya kemanapun kau mau. Aku berjanji.

Toh kamu sudah taukan seberapa besar usahaku ?

Lagi pula masih banyak "hutang" yang harus dilunasi sendiri-sendiri.

Aku masih ingat kamu begitu semangat menceritakan cita-citamu untuk menjadi seorang programer dan menjadi "mami IT" dan tak cuma itu kamu juga harus menjadi madrasah, sekolah, koki, perawat dan lain-lain yang harus kita pelajari secara terpisah.

Lagian "hutang"ku juga masih banyak, aku harus menjadi Imam, teknisi listrik, teknisi kran mungkin, atau sekedar naik tangga untuk memeriksa genteng dan masih banyak lagi.

Apalagi untuk petualangan-petualanganku yang kadang mengasingkan diri. Atau sekedar males untuk disibukkan dengan menjawab keluh kesah mu tentang dunia kerjamu, atau malah aku sering "memalskuan" keberadaan ku disisuatu tempat agar terhindar dari pertanyaan mendetail bak polisi yang sedang mengintrogasi tawanan.

Iya, hubungan LDR kita memang membuat sumber informasi keadaanku hanyalah dari diriku saja. Tapi maaf, aku juga butuh privasi yang kadang tak pernah aku sampaikan ke kamu.


Akhh... Terlebih masalah finansial yang aku takut-takutkan, aku tak ingin kita hanya manis diawal lalu kebingungan untuk sekedar makan nasi goreng karena tak ada uang untuk beli kecap atau apalah bumbu-bumbu masak itu.

Itu bukan hal yang lucu atau romantis.

Aku tahu: hidup jelas lebih baik dilalui denganmu. Namun tak ada yang baik dari tingkah laku terburu-buru.

Usaha yang akan kita bangun juga prospek yang sangat bagus, aku yang penuh perhitungan untuk menjalankan usaha malah menghambat untuk jalanya usaha itu sendiri.
Bukannya aku tak mau, tapi semua itu butuh perhitungan yang matang.

Sama dengan hubungan kita ini, butuh perhitungan yang matang untuk menjalankannya, bukan hanyak janji cinta sehidup semati saja. Aku jadi inget lagu-lagu band yang mencoba mendefinisikan arti kata cinta, ada yang mengatakan cinta itu buta, cinta itu anugrah terindah, entah apalah aku juga tak terlalu ingat soal lagu-lagu itu.

Tapi aku sadar, kita butuh waktu untuk berfikir, menganalisa, memperhitungkan itu semua. Jangan sampai karena cinta membunuh rasionalisme otak kita untuk berfikir dan timbulah kata-kata cinta ini membunuh ku. Denasip !

Mungkin terselip pertanyaan, mungkin aku ini meragukan mu ?

Maka aku jawab dengan lembut tenanglah, aku tak sedang meragukanmu. Bersanding di sisimu justru sedang kusiapkan dengan tuntasnya kelayakan diriku.

Kuharap kau memahami, keputusanku untuk tak terburu-buru tidaklah diambil karena aku meragukanmu. Justru sebaliknya, aku mengagumi sosokmu. Tak akan kubiarkan kau malu atau kesusahan karena memiliki pasangan hidup sepertiku.

Beri aku waktu. Melunasi mimpi-mimpiku sendirian, memperbaiki segala kekurangan. Demi kehidupan bersama yang tak hanya manis di awal, demi sisa hidup yang tak akan pernah kita lupakan.

Saat bersama kita akan segera tiba. Maukah kamu bersabar, sebentar lagi saja?


Baca Selanjutnya » Izinkan Aku Memantaskan Diri

Untuk Mu Mahasiswa Pertanian

Praktikum Pertanian

Teruntuk kamu yang sekarang menempuh kuliah di Fakultas Pertanian, entah karena pilihan petama kedua atapun terakhir…

Adakalanya kamu pasti merenung dan bertanya pada hati kecilmu. Benarkah jurusan yang kuambil?  Seberapa prospekkah jurusan yang kutekuni selama beberapa semester ini? Haruskah aku bertahan atau beranjak ke jurusan lain?

Apa yang harus kulakukan ketika reuni SMA, teman-teman dengan bangga berujar masuk Fakultas prestise Kedokteran, Teknik, sementara aku hanya bisa berlapang dada berucap lirih berada di jurusan yang sering mereka pandang sebelah mata.

Apa yang harus kukatakan ketika tak sengaja bertemu seorang Ibu setengah baya di bus atau dikereta, yang seringkali bertanya alasan macam apa yang membuatku masuk pertanian? Lantas beliau bercerita anaknya yang kuliah di Teknik telah sukses bekerja di kantor perusahaan asing dengangaji sekian besarnya.

What is Agriculture?

Yang mereka tahu Pertanian identik dengankemiskinan, kemelaratan,dan ketidakpastian. Yang mereka tahu lulusan Pertanian nantinya justru memilih bekerja di sektor Perbankan, perkantoran dan sektor lain yang identik dengan suasana bersih, nyaman, dan dingin ber-AC.Tak sama halnya ketika bekerja di sektor sendiri, menjadi seorang petani yang lekat akan panas terik matahari, butiran peluh kerja keras hanya untuk mengais rezeki demi sesuap nasi. Seringkali mereka bertanya padaku,

“Kamu kok masuk Fakultas Pertanain, besok mau jadi apa?”

Miris rasanya melihat orang-orang dengan mudahnya men-judge masa depan seseorang hanya dengan melihat apa yang diyakini dan dilihatnya saat ini.

Untukmu yang merasa salah jurusan. Lupakah kamu lagu Buruh Tani dan lagu perjuangan-perjuangan lain yang dengan lantang engkau dengungkan ketika masa orientasi atau ketika engkau dg semangat melakukan orasi kenaikan harga BBM dulu?

Lupakah kamu janji-janji manis membangun sektor Pertanian yang sempat engkau torehkan di depan mimbar, depan kami dan kakak angkatan dulu?

Lupakah kamu wajah-wajah penuh harap akan adanya perubahan yang pernah engkau bawa kepada mereka para petani desa yang pernah menjadi koresponden untuk tugas kuliah waktu itu?

Bagimu mungkin itu hanya sebatas wawancara petani dalam rangka memenuhi tugas perkuliahan 3 SKS, tapi bagi mereka itulah secerca harapan yang engkau tawarkan agar mereka tetap kuat dan bertahan menghadapi keras dan pilunya hidup sebagai petani..

Teruntuk kamu yg pernah merasa salah jurusan dan lelah ingin menyerah..

Tidakkah kau paham, sesungguhnya tak ada sehelai daunpun jatuh tanpa seizin-Nya..

Begitu pula ketika kamu diberi kesempatan menjadi mahasiswa Pertanian. Sesungguhnya ada harapan-harapan dan masa depan petani yang diamanahkan-Nya kepadamu.

Untukmu yang sering mengeluh mahasiswa Pertanian banyak tugas dan laporan tulis tangan..

Lupakah kamu jika petani di luar sana tak sedikitpun mengeluh ketika harus mengolah sawahnya dari proses menanam, mencangkul hingga membajak dengantangan mereka sendiri?

Tak lihatkah engkau betapa kasar dan gelap kulit tangan mereka. Terpapar langsung terik matahari tak sedikitpun membuat mereka gusar lantas menyerah.

Tidak sepertimu yang baru menulis beberapa lembar laporan lantas mengeluh di sosial media tak lupa menyertakan emoticon-emoticon mendukung keluh kesahmu.

Sebenarnya apa yang engkau harapkan? Simpati dari teman-temanmu? Atau rasa iba dari keluargamu yang lantas akan memindahkanmu ke jurusan lain? Atau hanyaperwujudan ketidakmampuanmu mengemban tugas? Bukankah lebih baik tenaga untuk berkoar-koar diakun pribadimu kamu alihkan untuk bergegas menyelesaikan tugasmu..

Untukmu yang sering mengeluh kuliah praktikum full pagi sampai sore?

Lupakah kamu jika petani harus menanggalkan sarung dan selimut hangat mereka, bergegas mengayuh sepeda pagi buta menuju sawah. Menyambut terbitnya sang fajar dengan berucap syukur lantas bekerja sampai hari petang. Mereka lakukan hampir setiap hari tanpa sedikitpun mengeluh.

Bukankah jauh lebih beruntung dirimu, yang masih bisa berlibur di tanggal merah, libur semester, sesekali pulang kampung, berwisata lantas mengunggah foto di akun pribadi tak lupa menyertakan hashtag-hashtag kekinian.

Happy holliday everybody #jpmp #jogjaexplore #sunset #ngandong #beach

Bisakah engkau bayangkan bila engkau menjadi seorang petani?

Menanam padi 1 hektar #syebel #kezel #laper #mager

Berangkat jam 05.00 pulang jam 17.00. Di situ kadang saya merasa sedihAda orang beli beras, gue kasih sekalian sawahnya #guamahgituorangnya

Percayalah sesungguhnya hasil tidak akan pernah mengkhianati usahamu. Begitu pula kerja keras dan pantang menyerahmu belajar di Fakultas Pertanian. Kelak Tuhan akan membalas setiap tetesan keringat perjuanganmu. Setiap bulir-bulir nasi yang mereka makan sesungguhnya dihasilkan oleh tetesan peluh perjuangan petani.

Varietas padi unggul tahan hama dan penyakit tak akan terwujud tanpa adanya ide dan usaha para peneliti yang menghabiskan separuh hidup mereka di balik laboratorium penelitian. Ketahanan dan kemandirian pangan tak akan tercapai tanpa adanya intervensi serta partisipasi pemerintah yang tepat dalam membuat regulasi,,

Dan kamulah mahasiswa-mahasiswi Pertanian, generasi-generasi muda yang akan menggantikan posisi mereka. Tak perlu lagi merisaukan akan bekerja dimana aku kelak bila masuk Fakultas Pertanian. Sesungguhanya Tuhan adalah sebaik-baiknya pembuat rencana. Lakukan sebaik mungkin bagian yang kamu bisa dan sisanya pasrahkan bagian yang tak kamu bisa kepadaNya.

Kelak lihatlah senyum kegembiraan di wajah-wajah petani. Menyambut setiap pagi dengan harapan baru. Padi tumbuh subur menguning siap dipanen. Setiap lapisan masyarakat dapat mengkonsumsi beras tanpa harus mengimpor beras.Sudah sepantasnya Indonesia yang merupakan Negara Agraris dengan 60% masayarakatnya bekerja di sektor pertanian mampu berswasembada beras dan mewujudkan Ketahanan Pangan.

Semua cerita indah itu kini ada di pundakmu, wahai mahasiswa-mahasiswi Pertanian…

No farmer, no food, no future.
Hidup Petani Indonesia!

Sumber hippwe


Baca Selanjutnya » Untuk Mu Mahasiswa Pertanian

Aku Coba Mengingatmu Lagi

Foto di TMII, Pura-pura Terbang

Aku Coba Menginatmu Lagi

Terlalu munafik yang telah aku lakukan, dalam hati berkecamuk perdebatan sengit antara dua kebribadian yang saling bertentangan. Terutama dalam hal hubunganku dengan Dia gadis cantik yang telah menemaniku selama dua hari  untuk traveling. Aku harap juga bukan temen saat bersenang-senang saja.

Aku tak terlalu menyoalkan tentang komentar-komentar orang lain tentang hubunganku, atau aku terlalu bebal karena telah merasakan yang namanya cinta. Cinta yang aku pahami adalah rasa sayang yang luar biasa kepada pihak pertama (diri sendiri) atau pihak ke dua (mahluk hidup atau barang) tanpa rasa pamrih untuk memperoleh imbalan.

Iya aku sudah jatuh cinta pada wanita itu, dengan penampilan sederhana dan apaadanya membuat aku makin tertarik untuk memperdalam pengetahuanku tentang dia dan keluarganya. Aku sering mencuri-curi informasi tentang dia dan keluarganya melalui obrolan-obrolan yang aku lakukan ketika traveling bersmanya.

Banyak orang-orang yang mengatakan untuk lebih memahami orang lain adalah ajaklah orang itu untuk melakukan perjalanan jauh, maka kamu akan tau karakter sesungguhnya. Ia ia bener sekali, aku bisa lebih paham karakternya yang sesungguhnya.

Dari sifat egoismenya yang timbul ketika harus menentukan destinasi, dan ketika mencari jalan keluar dari komplek wisata yang membuat kita harus meninggikan suara dan diakhiri dengan senyuman manis dibibir saling menyadari kesalahan.

Atau ketika manjanya yang harus dirayu-rayu ketika aku meninggalkannya sebentar dan malah  kabur yang membuat aku kebingungan dan hampir naik darah saat mencarinya.

Dan yang paling lucu sikap cemburunya kepada teman-temanku, saat itu aku sedang membalas BBM dari temenku, tiba-tiba dia pindah duduk dari sampingku, aku pikir karena ingin melihat view yang berbeda. Tapi aku cepat menyadari kalau itu kode !

Tak kalah hebatbya ketika mandirinya muncul, datang dengan membawa bekal makanan yang dia siapkan dari rumah dan telah menyiapkan segala kemungkinan cuaca dengan membawa payung. Oke mungkin menurut mu itu biasa, tapi bagiku itu luar biasa kemandirianya. Aku ingat juga ketika dia tak repot-repot aku harus mengantar ke kamar mandi untuk sekedar melampiaskan hajatnya. Perlu diketahui banyak loh, wanita yang minta di tunggu didepan toilet wanita yang membuat laki-laki iyuh banget.

Dan ini yang paling luar biasa, aku kenal dia hampir 4 tahun, yang awal itu dia sangat kekanak-kanakan sekali saat ini sangat dewasa seiring makin bertambahnya usia dia. Menurut kamu pasti hal yang biasa ketika wanita berumur 20an sudah berfikir dewasa. Tapi sekali lagi aku ingatkan, betapa banyak wanita yang belum berfikir dewasa yang masih sekedar memilirkan yang penting seneng dan saat ini saja. Aku kaget ketika dia menawarkan planning yang ia sodorkan untuk jangka pendek, menengah dan panjang. Yang membuat aku gugup untuk berkomentar dan beberapa kali harus mengalihkan pembicaraan, namun karena kedewasaannya dia mampu untuk mengembalikan ke topik pembahasan.


Baca Selanjutnya » Aku Coba Mengingatmu Lagi

Anda Orang Lampung Sedang Di Jogjakarta, Main ke Kedai Kopi Beloe

Anda orang lampung yang sedang kuliah di Jogjakarta ? Binggung nyari kawan-kawan yang satu daerah dengan Anda ? Atau sedang kangen pengen pulang kampung ke lampung ?

Tenang saja, Anda bisa main ke Kedai Beloe Lampung Taste yang berlokasi di Jln. Ring Road Barat, Gamping Kidul 68, Ambarketawang, Gamping, Sleman. Lokasi yang berada diluar pusat kota ini membuat nilai plus untuk kumpul-kumpul diskusi atau mengenang kampung halam dikedai ini.

Selain kopi berbagai varian rasa yang jadi menu andalan, ada juga varian lainya ada susu jahe, coklat, teh, teh tarik, jeruk, lemon tea, berbagai jus buah dan makanan cemilan lainya.

Pemilik kedai yang asli mahasiswa lampung, lebih tepatnya dari lampung timur kecamatan jabung ini membuka kedai kopi beloe ingin mengangkat kopi lampung yang saat ini masih dijual dalam bentuk mentah atau belum diolah.

Nama Beloe diambil dari nama salah satu kecamatan di Kabupaten Tangamus Lampung yaitu Ulubelu yang merupakan kecamatan penghasil kopi, Beloe juga memiliki arti sahabat.

Kopi yang disajikan disini merupakan asli dari daerah Ulubelu yang disortir untuk mencari kualitas terbaik.

Pemilik kedai yang saat ini masih kuliah di UMY juga menuturkan, walau kedai ini baru namun banyak pengunjung yang datang untuk menikmati kopi beloe ini. Pengunjung rata-rata dari kalangan pencinta kopi dan mahasiswa lampung sendiri yang sedang ingin mengenang kampung halamannya dilampung.

Ketika diwawancarai pemilik Kedai Beloe Arif Iskandar dengan senyum manisnya menceritakan "Kedai ini sering dikunjungi pencinta kopi, sering juga pengunjung turis manca negara yang menikmati kopi dikedai kami"



Demikian postingan yang ane buat saat ini, ma'af banyak kesalahan dan terlalu bertele-tele dalam penjelasan
Baca Selanjutnya » Anda Orang Lampung Sedang Di Jogjakarta, Main ke Kedai Kopi Beloe

Fakta-Fakta Seputar Mahasiswa

Menjadi seorang terpelajaar itu tidak mudah, butuh perjuangan yang panjang untuk menuju kesana, dan setelah menyandang kaum terpelajar anda juga akan mendapat berat untuk memanggulnya. Dan Ingin tahu seperti apa serunya kehidupan mahasiswa? Yuk, simak langsung di sini!

1. Mahasiswa belajar membedakan keinginan dengan kebutuhan, sama tanggung jawab dengan diri sendiri.

Menjadi mahasiswa dan punya banyak kawan baru akan menjadikanmu memiliki lingkungan baru yang kamu miliki, dan lingkungan baru itu akan mempengaruhi dirimu. Pasti akan menimbulkan sebuah problematika ketika keinginanmu yang begitu tinggi tidak diimbangi dengan kebutuhan mu.

Hal ini sering terjadi ketika orang tua kita memberikan "gaji" yang pas pasan saja.

A : Aku pengen beli Novel Ketika Cinta Bertasbih.

B : Loh, apa kamu gak mau beli pengantar ilmu pertanian aja. Itukan lebih penting buat kamu.

A :<*^(^%*



2. Mahasiswa aktif ke perpus menjelang ujian dan mau skripsi.

Menjelang Ujian kamu akan menjadi sering ke perpustkaan karena catatan  yang ada dibuku kamu hanya coret-coretan lingkaran atau main map yang tidak jelas, celakanya perpustakaan selalu penuh kala ujian mendekati. Apalagi jika kamu seorang mahasiswa akhir yang sendang mengerjakan skripsi, maka kamu akan lebih akrab dengan penjaga perpus. 


fotografi.blog.gunadarma.ac.id
3. Mahasiswa Bakal Panik Kalau Komputer atau Laptopnya ngadat

Komputer dan laptop menjadi barang penting bagi seorang mahasiswa, karena saat ini kedua barang itu menjadi penunjang mahasiswa. Terlebih bila file file kamu ada disitu semua



Baca Selanjutnya » Fakta-Fakta Seputar Mahasiswa

Hati-Hati Dengan Perhatian Berlebihan

Jangan berharap ketika ada orang yang perhatian dengan mu, terkadang kita terlalu hanyut dalam lena dan buain rayu peratian sehingga terjadi hal yang tak diinginkan.

Hal ini terjadi pada teman ku yang baru pulang dari perantauan, entah mimpi apa semalam dia. Pulang merantau dari tanah jawa untuk membawa sebongkah berlian sirna sudah. Setelah di terminal ia tergoda dengan perhatian berlebihan dari seorang wanita berparas cantik.

Wanita yang seyogyanya memiliki sifat yang lembut memang benar, wanita yang entah seperti apa juga bentuk penampakannya aku tak tau, tega meracun teman seperjuanganku.

Temanku tergeletak lemas tak berdaya, berlian yang ia bawa sirna berpindah tangan ke wanita yang baru dia kenal.

Berhati hatilah kepada orang yang memberikan perhatian berlebihan, hawatir memiliki agenda lain dibalik bentuk perhatiaanya.

Jangan mudah terlena dengan perhatian berlebihan, Anda bisa tertipu.


Demikian postingan yang ane buat saat ini, ma'af banyak kesalahan dan terlalu bertele-tele dalam penjelasan
Baca Selanjutnya » Hati-Hati Dengan Perhatian Berlebihan

Titik Awal Dibulan Desember *=Kezoapatis=*

Titik Awal Dibulan Desember

Kezoapatis

Jauh jauh hari aku mempersiapkan agenda liburan di bulan desember ini, ketika orang-orang sibuk untuk mempersiapkan acara akhir tahun akupun tak mau ketinggalan untuk mengikutinya. Ada banyak agenda yang telah aku susun untuk mengisi liburan dibulan desember, ada beberapa poin yang telah menjadi target terlaksana dalam liburan  ini.

Terselip dalam target target yang telah aku agendakan adalah bertemu dengan dia ? Iya, Dia. Dia yang akan banyak aku ceritakan dalam tulisan ini, bermula dari email yang masuk pada siang hari itu.

Seperti drama mini pertemuan rangga dan cinta yang sedang hit di youtube. Seperti Itulah awal mula aku bertemu dengan dia.

Dia adalah sosok yang selama ini aku coba untuk jauhi dan yang aku coba lupakan. Hal itu terinspirasi dari kata-kata Ali, yang mencintai dalam diam kepada Fatimah.

Kata-kata yang aku kutip adalah " Ya Allah, Kau tau, hati ini terikat suka akan insan ciptaanMu. Tapi aku takut, cinta yang belum saatnya akan membuat aku tidak bisa mencium bau surgaMu. Berikan aku kekuatan untuk menjaga cinta ini,  sampai tiba waktunya. Andaikan Engkau mempertemukan aku kelak, izin akan aku untuk melupakannya sejenak. Bukan karena aku tidak mencintanya, tapi karena aku benar-benar mencintainya."
Sungguh kata-kata yang sangat mengispirasi untukku.

Tapi entahlah, hati ini ingin rasanya bertemu dengan sosok yang selama ini aku istirahatkan untuk memikirkannya.

Tiba pada waktu yang telah aku tetapkan dalam kalender akhir tahun untuk melaksanakan liburan Kekota yang selama hampir 2 tahun telah aku tinggalkan, kota
Kota yang turut memberikan warna dalam hidupku, kota yang memberikan pelajaran dunia selama 3 tahun, kota yang telah memberikan izin untukku bertemu dengan Dia. Kota hujan, kota seribu angkot, Kota Bogor yang aku rindukan.

Stasiun Bogor menjadi saksi pertemuan ku dengan Dia, yang hampir 2 tahun tidak bertemu, 2 tahun tak berkomunilasi, 2 tahun tak memberi kabar, 2 tahun memenjarakan rindu ini.

Tak banyak perubahan yang terlihat ketika aku melihat sekilas ke arah Dia, kecuali senyum memaksa yang aku baca dari wajah manisnya, tepat disamping pintu masuk stasiun Dia menunggu, memakai baju warna kesukaanku.

Betapa aku bahagia bisa bertemu dengan dia, aku pasang senyum tulus dari dalam hati berharap dia akan memberikan respon yang sama terhadap senyumku, pertemuan yang menjadi permintaan hati kecilku, sebuah agenda yang terselip bisa terlaksana.

Kota Jakarta menjadi tujuan untuk pelepas rindu, tak terlalu banyak percakapan selama perjalanan, rasa canggung masih membayang


Selama perjalanan menuju Kota Jakarta, hanya curi-curi pandang yang aku lakukan, terkadang mataku saling beradu dan aku tertunduk malu.
                                             
"Ada apa ?" kata yang aku ucapkan ketika menutupi rasa malu ku.

"Gak kenapa-kenapa." jawab dia singkat.

Niat hati ingin banyak bertanya tentang kabar Dia selama ini, aktivitas apa yang telah dilakukan, petualangan apa yang ditahlukkan, target apa yang telah dicapai, perjuangan apa yang telah dipikirkan. Namun apa daya, berhadapan duduk dikursi dengan jarak 200 cm didalam kereta Commuter Line menjadi penghalang ku untuk bertanya itu semua.

Curi curi pandang aku lakukan, lagi lagi mata ini saling beradu, dan aku hanya bisa tersenyum melihat Dia yang selama ini tak lepas dari doa-doa ku.

"Kenapa ?" Itu kata yang aku pahami dari bahasa bibir yang Dia gerakkan, karena kereta makin penuh sesak tak memungkinkan untuk mendengar kata yang dia ucapkan.

Aku cuman bisa menggelengkan kepala sambil tersenyum untuk menutupi rasa malu itu.

Coba aku alihkan dengan membaca buku tentang kepemimpinan, berharap buku itu akan mengalihkan fokusku untuk melihat dia 200 cm hadapanku. Sia sia aku mencoba untuk membaca, tapi mata ini tetap saja ingin melihat Dia yang selama ini cuman aku lihat dilayar Handphone atau laptop dijejaring sosialnya.
Ingin rasanya aku berdiri dari tempat duduk dan berjalan tak lebih dari 3 langkah kedepan untuk tepat dihapannya namun apa daya, tak menemukan moment yang pas untuk itu.

Tak lama kemudian, perasaan ini memberontak memerintah otak untuk menjalankan otot-otot untuk bergerak dari zona nyaman, berdiri dihadapan Dia dan bisa puas memanjakan perasaan rindu untuk Melihat tepat dihadapanya.

Langkah ini semakin semangat ketika melihat senyum manisnya, seperti memberikan dukungan walau badan ini lelah setelah menempuh perjalan Lampung-Bogor ditambah ke Ibu Kota ini.

Walau jarak bukan menjadi kendala lagi, ternyata lidah malah menjadi kaku untuk berbicara. Perjalan Bogor-Jakarta seperti makan tanpa dikunyah lewat begitu saja.

Monas menjadi tujuan saat itu, perjalanan dari Stasiun Juanda sampai gerbang monas menjadi pelebur kencanggungan, obrolan-orolan ringan banyak kita lakukan, sehingga 1000 meter jarak yang ditempuh menuju gerbang Monas tak membuat kaki pegal waktu itu.

Sempat aku dan Dia duduk berteduh sambil menikmati Air kelapa muda dan Mie Instan, obolan-obrolan berat mulai kita bicarakan, bercerita tentang perjalanan selama 2 tahun, cerita tentang revolusi di 2015 dan banyak hal lagi.

Aku hanya tertarik ketika dia bertanya.

"Kakak mau gak sama aku ?" dia bicara sambil tak memperhatikanku.
Aku hanya diam mendengar dia bertanya itu, sambil otak berpikir memberikan jawaban yang pas untuk jawaban itu. Namun setelah berpikir lamapun otakku tak mampu memberikan jawaban yang tepat, aku cuman mengelak.

"Ganti pertanyaan aja deh, susah jawabnya." Aku cuman bisa nyengir kuda.

Dia kembali mengulang pertanyaan dengan menambahkan penjelasan yang jelas dan alasan pendukung yang membuat aku makin berfikir keras untuk menjawabnya. Lagi lagi aku hanya bisa mengelak dengan menjawab
                                            
"Itu ada pilihan gandanya gak ?" Sambil aku tersenyum melihat wajah manis dia yang berubah pasif menahan emosi.

"Yes or No ?" Jawab dia tegas.
Aku merubah posisi duduk berfikir kembali untuk mencari jawaban yang cuman dua pilihan. Dan aku menceritakan perasaanku yang telah aku belenggu selama kurang lebih 2 tahun, mencoba untuk membagi perasaan yang aku alami.

Tak mendapatkan titik terang yang jelas dari jawabanku, dia mengajakku untuk naik naik ke puncak Monas.
Sepanjang jalan menuju loket, dia juga menceritakan apa yang dirasakan selama ini.

"Cinta dalam diam." gumanku dalam hati, sambil mendengarkan cerita yang Dia rasakan selama 2 tahun ini.

2 tiket sudah ditangan untuk ke museum monas, namun tidak bisa menuju kepucak karena antrian ke puncak monas sangat panjang.
Tepat disana waktu menujukan pukul 12.05, waktu adzan untuk daerah jakarta dan sekitarnya.

Setelah itu dia menginturksikan untuk sholat dzuhur terlebih dahulu dan sempat terdengar samar-samar.

"Yaudah kita sholat dulu, doa kepada Allah untuk mencari solusi yang terbaik dalam keputusan ini." sebuah kata-kata tegas dan menunjukkan kedewasaan dari Dia yang selama ini aku kenal manja.

Aku langsung merespon dengan senyuman dan anggukan kepala sambil memuji pemikirannya yang makin dewasa, ternyata perubahannya ada dalam diri, bukan hal-hal yang terlihat dalam bentuk fisik, tapi sesuatu yang dirasakan oleh perasaan yang mulai peka terhadap perubahan Dia.

Setelah sholat aku dan Dia berputar-putar berkeliling monas, sambil membahas pertanyaan tadi. Banyak yang aku bertimbangkan untuk menjawab pertanyaan itu, bukan hanya soal Yes or No saja, perasaan, lingkungan, tanggung jawab, jarak, komitmen dan banyak lagi menjadi pertimbangan ku.

Terlebih Dia dengan Imam...?

Entahlah, anak satu itu tiba tiba mendobrak masuk dalam pikiranku dan seperti menekan dan memaksaku untuk meminta kejelasan tentangnya.
                                      
Aku mengajak Dia untuk duduk dicawan, melihat gedung pertamina, gedung RRI, Istana Negara, Masjid Istiqlal yang berhadapan dengan Gereja Katredal dan melihat pengunjung yang hilir mudik untuk masuk ke Monas.

Aku kembali menjelaskan maksud dari jawabanku, dan Dia mulai mengangguk-angguk dan sekali kali membantu menjelaskan dan mengulangi penjelasan yang ku lakukan, menambahkan disana sini. Dan terkadang aku selipkan sifat-sifat jailku yang membuat Dia ngambek, dan aku kebingugan untuk membujuk dia tersenyum lagi.

Duduk dicawan juga tidak memberikan titik terang atas jawaban itu. 


Entah kenapa tiba-tiba dia ingin naik bis wisata yang digratiskan Pemkod Jakarta, tapi sayang aku dan dia harus menunggu untuk ikut.

Selama menunggu, aku keluarkan oleh-oleh khas lampung kerupuk kemplang, sempat aku nikmati satu suapan dari Dia.
                                       
"Kamu inget kan kak, waktu itu aku pernah nyuapin kamu pake kerupuk kayak gini ?" Tiba-tiba dia nyerocos menceritakan hal itu.

"Aku gak inget." Aku pura-pura lupa
sambil garuk-garuk kepala padahal waktu itu aku gundul.

Dia mulai menceritakan kejadian 3 tahun yang lalu, aku juga membawakan oleh-oleh yang sama buat Dia. Aku tersenyum sambil mendengarkan dia dengan semangat bercerita kejadian itu.

"Ikhh.. Aku kan pernah nyuapin kamu, trus aku kasih love gtuh pake sambelnya. Kamu aja makan Kerupuknya nambah-nambah kok, aku inget. Masak kamu gak inget sih ? Itu loh yang pas dijalan merdeka, inget gak sih ? Inget kan ?"

Aku cuman pura-pura lupa sambil tersenyum lepas.

"Enggak, aku gak inget kok."

"Ikh kamu mah pelupa." mencoba untuk mengontrol diri agar tidak larut dalam cerita masa lalu.

"Aku suka deh kamu senyum lepas gituh kak." tiba-tiba nada suaranya menjadi lembut.             

Seletika aku langsung menoleh dan tersenyum 227. Tak terasa, hampir 2 jam aku dan dia menunggu, ternyata bis wisata yang di tunggu tak kunjung datang juga, waktu
sudah menunjukan pukul 13.50 waktu kedatangan bis wisata 10 menit lagi akan sampai. Tapi sayang banget, aku dan dia harus kembali ke bogor.

Kembali aku dan Dia menyiksa kaki ini untuk berkeliling Monas, sepanjang berkeliling yang aku bahas dengan dia mulai berganti-ganti topik. Suasana menjadi lebih hangat ketika dia menceritakan hal-hal yang sama kurasakan.

Ternyata dia selama ini juga mendoakanku, melihat akun jejarin Sosialku, memikirkanku, menyimpan foto-fotoku dan kenang-kenangan yang aku berikan ke Dia, malah aku yang lupa sendiri kenang-kenangan apa aja yang aku berikan. Dia juga meceritakan kura-kura yang aku berikan dan banyak lagi yang dia ceritakan.


Sebelum kembali kebogor terjadi kesepakatan untuk menjawab pertanyaan dia yang hanya memiliki 2 pilihan saja, akhirnya aku menjawab pertanyaan itu.
Dan jawaban itulah yang menjadi titik awal dibulan desember, sepanjang perjalanan menuju ke bogor suasana menjadi lebih ceria, aku dan dia juga sempat menikmati Bakso dan Mie ayam yang dulu pernah aku singgahi, lalu dilanjutkan dengan menyusuri jalan-jalan yang aku lalui dengan berpengangan tangan, otak ini diajak untuk merekontruksi tempat-tempat yang pernah aku lalui bersama, tempat aku membanting dompet karena kesal untuk mencari rumah makan terserah dibogor.


Perjalanan kamipun berujung diterminal laladon karena tak searah jalan pulang, tapi aku yakin dia searah dengan target yang telah aku tentukan.
Baca Selanjutnya » Titik Awal Dibulan Desember *=Kezoapatis=*