BLOG DALAM KEADAAN SEDANG DI REPARASI||MOHON MA`AF APABILA MASIH BANYAK KEKURANGAN||TERIMAKASIH TELAH BERKUNJUNG
Tampilkan postingan dengan label Hortikultura. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hortikultura. Tampilkan semua postingan

CARA MENYADAP KARET YANG BAIK DAN BENAR


CARA MENYADAP KARET YANG BAIK DAN BENAR
Menyadap berdasarkan kamus bahasa bapak saya artinya adalah mengambil, sedangkan arti menyadap karet adalah mengambil ketah karet atau lateks dengan cara melukai atau menggores kulit dari pohon karet. Teknik menyadap yang terdapat pada masyarakat sangatlah banyak, kali ini saya akan membahasnya sebagian pada posting kali ini. Kewajiban saya disini hanya menyampaikan ilmu yang saya peroleh kehalayak umum jadi mohon untuk dikoreksi kembali ilmu yang saya dapat ini. Untuk mengyadap perlu diperhatikan beberapa hal, diantaranya akan saya bahas dibawah ini :



A. Penentuan Matang Sadap
Matang sadapTanaman karet akan siap apabila sudah matang sadap pohon, artinya tanaman karet telah sanggup disadap untuk dapat diambil lateksnya tanpa menyebabkan gangguan yang berarti terhadap pertumbuhan dan kesehatannya. Kesanggupan tanaman untuk disadap dapat ditentukan berdasarkan lilit batang pada umur tanaman .

1. Umur Tanaman.
Dalam keadaan pertumbuhan normal, tanaman karet akan siap disadap pada umur 5 – 6 tahun. Namun demikian seringkali dijumpai tanaman belum siap disadap walau umurnya sudah lebih dari 6 tahun. Hal ini terjadi akibat kondisi lingkungan dan pemeliharaan yang kurang mendukung pertumbuhan tanaman. Sebenarnya Penyadapan karet dapat dilakukan pada usia kurang dari 5 tahun dengan syarat kondisi lingkungan dan pemeliharaan dilakukan dengan sangat baik sehingga pertumbuhan tanaman akan lebih cepat. Artinya umur tanaman karet tidak dapat digunakan sebagai pedoman untuk menetapkan matang sadap dan hanya dapat digunakan sebagai pedoman untuk pengukuran lilit batang .

2 Pengukuran lilit batang
Lilit batang telah disepakati sebagai pedoman untuk mengetahui pertumbuhan tanaman karet, karena hasil tanaman karet berupa lateks diperoleh dari batangnya (kulit batang). Tanaman karet dikatakan matang sadap apabila lilit batang sudah mencapai 45 cm atau lebih. Pengukuran lilit batang untuk menentukan matang sadap mulai dilakukan pada waktu tanaman berumur 4 tahun. Lilit batang diukur pada ketinggian batang 100 cm dari pertautan mata okulasi.

3. Matang Sadap Kebun
Penyadapan dapat dimulai setelah kebun karet memenuhi kriteria matang sadap kebun. Kebun dikatakan matang sadap kebun apabila jumlah tanaman yang sudah matang sadap pohon sudah mencapi 60% atau lebih. Pada kebun yang terpelihara dengan baik, jumlah tanaman yang matang sadap pohon biasanya telah mencapai 60-70% pada umur 4-5 tahun.

B. Persiapan Pembukaan Bidang Sadap
Sebelum melakukan pembukaan bidang sadap dilakukan Penggambaran bidang sadap pada kebun yang sudah mencapai matang sadap. Kriteria yang ditetapkan dalam penggambaran bidang sadap terdiri dari tinggi bukaan sadap, arah dan sudut kemiringan irisan sadap, panjang irisan sadap, dan letak bidang sadap . 1. Tinggi bukaan sadap adalah 130 cm diatas pertautan okulasi. Ketinggian ini berbeda dengan ketinggian pengukuran lilit batang untuk penentuan matang sadap. 2. Arah dan sudut kemiringan irisan sadap diharapkan dapat memotong pembuluh lateks sebanyak mungkin agar lateks yang keluar maksimal. Posisi pembuluh lateks pada umumnya tidak sejajar dengan batang tanaman tetapi agak miring dari kanan atas kekiri bawah membentuk sudut 3,7 derajat dengan bidang tegak. Agar pembuluh yang terpotong maksimal jumlahnya, arah irisan sadap harus dari kiri atas kekanan bawah tegak lurus terhadap pembulu lateks. Sudut kemiringan irisan sadap berpengaruh terhadap produksi. Sudut kemiringan yang paling baik berkisar antar 30 – 40 derajat terhadap bidang datar untuk bidang sadap bawah dan 45 derajat pada bidang sadap atas. Sudut kemiringan sadap juga berpengarug pada aliran lateks kearah mangkuk sadap. Sudut kemiringan yang terlalu datar dapat menyimpang dari alur aliran lateks, selain itu dapat menyebabkan aliran lateks menjadi lambat dan sering membeku sebelum sampai kemangkuk. 3. Panjang irisan sadap sangat berpengaruh terhadap produksi dan pertumbuhan tanaman. Panjang irisan sadap yang dianjurkan untuk karet rakyat adalah ½ S ( irisan miring sepanjang ½ spiral ) 4. Penentuan letak bidang sadap perlu dilakukan agar pelaksanaan penyadapn cepat dan mudah dikontrol. Oleh karena itu bidang sadap harus diletakkan pada arah yang sama dengan arah pergerakan penyadap waktu menyadap. Jadi bidang sadap diletakkan pada arah timur-barat ( pada jarak antar tanaman yang pendek ) 5. Pemasangan talang sadap dilakukan bertujuan supaya tidak mengganggu pelaksanaan penyadapan sehingga lateks dapt mengalir dengan baik dan tidak terlalu banyak meninggalkan getah bekuan pada batang,. Talang sadap baiknya dibuat dari seng dengan lebar 2,5 cm dan panjang +/- 8 cm dipasang pada jarak 5-10cm dari ujung irisan bagian bawah.. Pemasangan mangkuk sadap dilakukan pada jarak 15 cm – 20 cm dibawah talang sadap hal ini dilakukan agar lateks dapat mengalir sampai ke mangkuk dengan baik, mangkuk pada umumnya terbuat dari tanah liat, plastik, alumunium, atau batok kelapa yang diikat dengan menggunakan kawat

C. Pelaksanaan Penyadapan

1. Kedalaman Irisan Sadap
Pembuluh lateks dalam kulit batang tersusun berupa barisan dan terdapat pada bagian luar sampai bagian dalam kulit, semakin kedalam jumlah pembuluh kateks semakin banyak. Penyadapan diharapkan dapat dilakukan selama 25 – 30 tahun karena itu diusahakan pulit pulihan dapat terbentuk dengan baik oleh karena itu kerusakan saat penyadapan harus dihindari. Kedalaman irisan sadap yang dianjurkan adalah 1 mm – 1,5 mm agar pohon dapat disadap 25 – 30 tahun.

2. Ketebalan irisan sadap
Lateks akan mengalir dengan cepat pada awalnya, dan semakin lama akhirnya akan semakin lambat hingga akhirnya terhenti sama sekali. Hal ini disebabkan tersumbatnya ujung pembuluh lateks dengan gumpalan lateks. Sumbatan berupa lapisan yang sangat tipis. Lateks akan mengalir bila sumbatan dibuang dengan cara mengiris kulit pada hari sadap berikutnya dengan ketebalan 1,5 mm – 2 mm setiap penyadapan . 3. Frekuensi penyadapan adalah jumlah penyadapan yang dilakukan dalam jangka waktu tertentu. Penentuan frekuensi penyadapan sangat erat kaitannya dengan panjang irisan dan intensitas penyadapan. Dengan panjang irisan ½ spiral (1/2 S) , frekuensi penyadapan yang dianjurkan untuk karet rakyat adalah satu kali dalam 3 hari (d/3) untuk 2 tahun pertama penyadapan, dan kemudian diubah menjadi satu kali dalam dalam 2 hari (d/2) untuk tahun selanjutnya. Menjelang peremajaan tanaman, panjang irisan dan frekuensi penyadapan dapat dilakukan secara bebas . 4. Waktu penyadapan Jumlah lateks yang keluar kecepatan alirannya dipengaruhi oleh tekanan turgor sel. Tekanan turgor mencapai maksimum pada saat menjelang fajar, dan akan menurun bila hari semakin siang. Oleh karena itu penyadapan sebaiknya dilakukan sepagi mungkin setelah penyadap dapat melihat tanaman dengan jelas, yaitu jam 05.00 – 07.00 .

D. Sistem Eksploitasi
Kemampuan tanaman dalam menghasilkan lateks berubah yang dipengaruhi oleh umur tanaman. Oleh karena itu aturan penyadapannya juga harus disesuaikan dalam suatu sistem sadap yakni aturan-aturan yang dilakukan pada suatu periode. Beberapa sistem sadap yang dirangkai dan dilakukan secara berurutan sepanjang siklus produksi tanaman dinamakan sistem eksploitasi. Sistem ekploitasi yang dianjurkan untuk karet rakyat adalah sistem eksploitasi konvensiona

Baca Selanjutnya » CARA MENYADAP KARET YANG BAIK DAN BENAR

PEMULIAN TANAMAN


Pengertian Pemuliaan tanaman adalah usaha manusia untuk mengubah susunan genetis tanaman atau untuk merombak susunan genetis guna memperoleh hasil yang di ingginkan. Pemuliaan tanaman mengubah susunan genetik secara tetap sehingga sifat ataupun morfologinya sesuai dengan keinginan manusia. Orang yang melakukan pemuliaan tanaman disebut pemulia tanaman.

Pemuliaan tanaman bertujuan untuk meningkatkan hasil tanaman yang produktif serta perbaikan mutu tanaman yang dihasilkan.

Peningkatan hasil tanaman yang produktif diupayakan untuk menonjolkan daya hasil (misalnya bunga dan buah) dan kemampuan tanaman untuk tahan terhadap hama, penyakit, serta lingkungan yang tidak bersahabat. Selain itu, pemuliaan tanaman yang produktif bertujuan meningkatkan daya tumbuh tanaman dan penyesuaian terhadap teknologi pertanian.

Sementara itu, mutu produk tanaman diarahkan untuk peningkatan ukuran, kandungan vitamin maupun nutrisi di dalamnya, warna yang memikat, keunikan, keindahan, hingga pembuangan sifat-sifat tanaman yang kurang menguntungkan bagi manusia.


Pemuliaan Tanaman

Pemuliaan tanaman diawali dengan upaya meningkatkan variasi genetik yang dilanjutkan dengan seleksi pada keturunan terbaik. Ada beberapa cara untuk meningkatkan variasi genetik. Cara yang konvensional adalah menggunakan metode introduksi, persilangan, dan manipulasi genom. Sementara proses modern yang seringkali disebut sebagai bioteknologi, adalah manipulasi gen atau bagian kromosom serta transfer gen.

Introduksi

Introduksi berarti mendatangkan bahan baku tanaman dari tempat yang berbeda. Ini merupakan pemuliaan tanaman yang paling sederhana. Introduksi diilhami oleh teori “pusat keanekaragaman” yang diperkenalkan oleh ahli botani Rusia, N.I. Vavilov. Metode introduksi mendatangkan berbagai varietas tanaman dari tempat yang berbeda-beda, lalu dikembangbiakkan secara vegetatif. Ada beberapa tanaman yang telah dimuliakan dengan cara ini, di antaranya ketela pohon dan jarak pagar.

Persilangan
Persilangan adalah cara kedua yang paling populer untuk meningkatkan variasi tanaman. Sebagai contoh, menyilangkan tanaman gandum supaya tahan terhadap tanah dengan kadar garam yang tinggi. Bahkan, semua tanaman padi, jagung, dan kedelai, yang ditanam sebagai tanaman komoditi di negeri ini merupakan hasil persilangan.

Bila diamati secara mendalam, sebenarnya persilangan telah memanfaatkan ilmu manipulasi komposisi gen. Bukan sekadar mengawinkan dua varietas tanaman yang berbeda. Persilangan banyak dipilih sebagai metode perbanyakan variasi karena murah, efektif, efisien, dan mudah dilakukan.

Manipulasi Genom


Manipulasi genom merupakan proses mengubah susunan gen menggunakan manipulasi ploidi, baik penggandaan set kromosom maupun perubahan jumlah kromosom. Sebagai contoh, semangka tanpa biji. Semangka ini sebenarnya merupakan persilangan antara semangka tetraploid dengan semangka diploid. Sejatinya, dalam manipulasi genom, masih diperlukan persilangan untuk menghasilkan individu baru yang lebih unggul.


Manipulasi Gen


Manipulasi gen merupakan metode pemuliaan tanaman dengan menggunakan penerapan genetika molekuler dan juga mutasi gen. Teknik yang dilakukan, di antaranya tilling, teknologi antisense, gene silencing, teknologi RNAi, rekayasa gen, hingga over-expression. Dalam skala laboratorium, teknik-teknik tersebut telah berhasil dibuktikan. Namun, hingga saat ini, belum ada varietas baru yang dihasilkan, khususnya untuk kebutuhan komersil.


Transfer Gen


Nama lain metode ini adalah transformasi DNA. Caranya, dengan menyisipkan gen dari organisme lain ke dalam DNA tanaman untuk tujuan tertentu. Tanaman yang dihasilkan biasanya mendapat sebutan tanaman transgenik. Sebagai contoh, gen Agrobacterium tumefaciens yang disisipkan ke dalam tanaman tembakau mampu membuat tanaman tersebut tahan terhadap antibotik tertentu
.
Meskipun kemajuan teknologi telah membuktikan keandalan metode ini sehingga hasil produk yang diperoleh lebih sesuai dengan harapan manusia, berbagai aksi protes dan penentangan dilakukan oleh sejumlah kelompok pencinta lingkungan. Hal ini disebabkan kekhawatiran dari berbagai pihak akan dampak kerusakan lingkungan yang ditimbulkan bila metode ini dikembangkan secara luas.

Baca Selanjutnya » PEMULIAN TANAMAN

Menetralisasi Tanah yang mengandung Basa



Permasalan tanah sebenarnya bukan hanya tentang keasaman tanah (pH tanah) melainkan ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, akan tetapi kali ini ane hanya akan membahas tentang cara mengatasi tanah yang asam dan tanah yang basa. Untuk permasalahan yang lain tentang mikroorganisme tanah, KTK tanah, struktur tanah, aerasi tanah dan lain-lain mudah-mudahan bisa kita bahas dilain waktu.

Pengaruh pH tanah terhadap pertumbuhan tanaman:

Menentukan mudah tidaknya ion-ion unsur hara diserap oleh tanaman. Pada umumnya unsur hara akan mudah diserap tanaman pada pH 6-7, karena pada pH tersebut sebagian besar unsur hara akan mudah larut dalam air. Derajat pH dalam tanah juga menunjukkan keberadaan unsur-unsur yang bersifat racun bagi tanaman. Jika tanah masam akan banyak ditemukan unsur alumunium (Al) yang selain meracuni tanaman juga mengikat phosphor sehingga tidak bisa diserap tanaman. Selain itu pada tanah masam juga terlalu banyak unsur mikro yang bisa meracuni tanaman. Sedangkan pada tanah basa banyak ditemukan unsur Na (Natrium) dan Mo (Molibdenum)

Kondisi pH tanah juga menentukan perkembangan mikroorganisme dalam tanah. Pada pH 5,5 – 7 jamur dan bakteri pengurai bahan organik akan tumbuh dengan baik. Demikian juga mikroorganisme yang menguntungkan bagi akar tanaman juga akan berkembang dengan baik.
Setelah kita mengukur pH tanah dan telah kita ketahui keasamannya lalu apa yang akan kita perbuat pada tanah kita tersebut?

Jika pH tanah yang kita ukur tadi tidak sesuai harapan kita tentunya kita akan mencoba mengubah pH tanah tersebut sesuai dengan yang kita harapkan. Sebenarnya setiap tanaman memerlukan pH tertentu yang spesifik untuk pertumbuahnnya yang optimal, akan tetapi pH tanah yang ideal untuk semua jenis tanaman pangan, perkebunan dan hortikultura di Indonesia adalah antara 6 sampai 7. Jika pH tanah kita sudah menyimpang dari kisaran tersebut maka segeralah mengatasinya. Sebagai contoh jika pH tanah dibawah 6 itu berarti tanah masam dan jika lebih dari 7 berarti basa.


Pengapuran untuk meningkatkan pH dan mengatasi keracunan Al. Untuk mengatasi kendala kemasaman dan kejenuhan Al yang tinggi dapat dilakukan pengapuran. Kemasaman dan kejenuhan Al yang tinggi dapat dinetralisir dengan pengapuran. Pemberian kapur bertujuan untuk meningkatkan pH tanah dari sangat masam atau masam ke pH agak netral atau netral, serta menurunkan kadar Al. Untuk menaikkan kadar Ca dan Mg dapat diberikan dolomit, walaupun pemberian kapur selain meningkatkan pH tanah juga dapat meningkatkan kadar Ca dan kejenuhan basa. Terdapat hubungan yang sangat nyata antara takaran kapur dengan Al dan kejenuhan Al. Dosis kapur disesuaikan dengan pH tanah, umumnya sekitar 3 t/ha, berkisar antara 1-5t/ha.

Kapur yang baik adalah kapur magnesium atau dolomit yang dapat sekaligus mensuplai Ca dan Mg.
Pemberian Bahan Organik. Bahan organik selain dapat meningkatkan kesuburan tanah juga mempunyai peran penting dalam memperbaiki sifat fisik tanah. Bahan organik dapat meningkatkan agregasi tanah, memperbaiki aerasi dan perkolasi, serta membuat struktur tanah menjadi lebih remah dan mudah diolah. Bahan organik tanah melalui fraksi-fraksinya mempunyai pengaruh nyata terhadap pergerakan dan pencucian hara. Asam fulvat berkorelasi positif dan nyata dengan kadar dan jumlah ion yang tercuci, sedangkan asam humat berkorelasi negatif dengan kadar dan jumlah ion yang tercuci. Penyediaan bahan organik dapat pula diusahakan melalui pertanaman lorong (alley cropping). Selain pangkasan tanaman dapat menjadi sumber bahan organik tanah, cara ini juga dapat mengendalikan erosi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penanaman Flemingia sp. dapat meningkatkan pH tanah dan kapasitas tukar kation serta menurunkankejenuhan Al. Petani menyadari bahwa pemberian pupuk organik dapat meningkatkan kesuburan tanah. Menurut mereka, pengaruh pupuk organik dalam memperbaiki kesuburan tanah kurang spontan akan tetapi pengaruhnya lebih tahan lama. Sedangkan pupuk buatan pengaruhnya spontan akan tetapi hanya tahan beberapa minggu atau bulan. Pupuk organik yang digunakan adalah pupuk hijau, kotoran ternak, bagas, dan sebagainya. Berdasarkan pengalaman bahwa pengusahaan tanaman semusim yang sebagian besar biomasanya tidak dikembalikan, lebih cepat menguras zat makanan yang ada di tanah, mereka mulai belajar mengembalikan sisa-sisa panen ke lahan.

Pemberian Pupuk Phospat. Kekahatan P merupakan salah satu kendala utama bagi kesuburan tanah masam. Tanah ini memerlukan P dengan takaran tinggi untuk memperbaiki kesuburantanah dan meningkatkan produktivitas tanaman. Untuk mengatasi kendala kekahatan P umumnya menggunakan pupuk P yang mudah larut seperti TSP, SP-36, SSP, DAP. Pupuk tersebut mudah larut dalam air sehingga sebagian besar P akan segera difiksasi oleh Al dan Fe yang terdapat di dalam tanah dan P menjadi tidak tersedia bagi tanaman. Fosfat alam dengan kandungan Ca setara CaO yang cukup tinggi (>40%) umumnya mempunyai reaktivitas tinggi sehingga sesuai digunakan pada tanah-tanah masam. Sebaliknya, fosfat alam dengan kandungan sesquioksida tinggi (Al2O3 dan Fe2O3) tinggi kurang sesuai digunakan pada tanah-tanah masam.

Pengaturan sistem tanam. Pengaturan sistem tanam sebenarnya hanya bersifat untuk mencegah keasaman tanah atau mencegah kemasaman tanah yang lebih parah. Hal ini berkaitan erat dengan artikel ane yang berjudul  Mengatasi Tanah Asem- asemen Pada Padi Sawah.  Pemberaan. Untuk mempertahankan kesuburan tanah, petani memberakan lahan [Bahasa Jawa: bero] atau membiarkan semak belukar tumbuh di lahan yang telah diusahakan beberapa musim. Menurut mereka, tanaman akan tumbuh lebih baik pada lahan yang sebelumnya diberakan. Bera dengan hanya mengandalkan suksesi alami memerlukan waktu lebih lama untuk mengembalikan kesuburan tanah. Tumpanggilir. pengusahaan satu jenis tanaman semusim saja selama tiga tahun berturut-turut menyebabkan tanah menjadi “kurus” dan “cepat panas”.

Menurut pengamatan petani, jenis tanaman pangan yang banyak menguras zat makanan dalam tanah [Bhs.Jawa : ngeret lemah] adalah ubikayu, ketela rambat dan kacang tanah. Tumpangsari. Beberapa petani juga melakukan tumpangsari di lahan mereka. Pada umumnya dasar keputusan petani untuk memilih sistem tumpangsari adalah karena alasan ekonomi, bukannya kesadaran untuk mempertahankan kesuburan tanah. Misalnya pendapatan petani dari hasil tumpangsari jagung dan padi ternyata lebih besar dari hasil jagung atau padi monokultur. Pencegahan erosi. Pada dasarnya petani menyadari pentingnya pencegahan erosi di lahan mereka, terutama pada lahan yang curam. Beberapa usaha yang telah dicoba adalah dengan membuat guludan sejajar kontur atau menggunakan batang pohon yang ditebang pada saat pembukaan lahan sebagai teras-teras akan tetapi karena intensitas curah hujan yang tinggi serta struktur tanah yang kurang mantap menyebabkan guludan tersebut mudah longsor. Sebagian petani ada yang membuat guludan tegak lurus arah kontur, sehingga air limpasan bisa mengalir lebih cepat. Cara ini memang bisa mengurangi kerusakan guludan dan mempercepat pematusan karena tanaman tertentu tidak menyukai tanah yang terlalu basah, tetapi pengikisan tanah (erosi) tetap terjadi.

Pemberian Mikroorganisme Pengurai. Terdapatnya bahan organik yang belum terurai juga akan menyumbangkan tingkat keasaman tanah, pristiwa ini sering ane lihat pada tanah-tanah sawah yang terlalu cepat pengerjaannya. Pemberian mikroorganisme pengurai akan mempercepat dekomposisi bahan organik dalam tanah sehingga akan membantu ketersediaan dan keseimbangan unsur hara. Selain itu perombakan bahan organik juga akan menyeimbangkan KTK tanah.


Untuk mengatasi tanah-tanah basa menurut  bisa dilakukan dengan cara pemberian sulfur atau belerang. Pemberian belerang bisa dalam bentuk bubuk belerang atau bubuk sulfur yang mengandung belerang hampir 100 % .  Pemberian pupuk yang mengandung belerang kurang efektif jika digunakan untuk menurunkan pH. Beberapa pupuk yang mengandung belerang yang bisa digunakan antara lain ZA ( Amonium sulfat ), Magnesium sulfat, Kalium sulfat, tembaga sulfat dan seng sulfat. Pemberian bahan organik/ pupuk organik juga bisa membantu menormalkan pH tanah.

Baca Selanjutnya » Menetralisasi Tanah yang mengandung Basa

Kenapa dalam fotosintesis cahaya hijau tidak dipakai ?

Add caption
Kenapa cahaya hijau tidak di gunakan dalam fotosibtesis, Pengaruh cahaya hijau dalam fotosintesis, Dalam proses fotosintesis yang paling berpengaruh bagi fotosintesis adalah cahaya yang ada di rentang 380nm-700nm kalo dalam reaksi terang biasanya ada 2 fotosistem yang satu yang menyerap di 700nm dan satunya di 680 nm jadi bisa di simpulkan cahaya merah paling baik untuk fotosintesis. Sehingga cahaya hijau tidak terlalu dipergunakan untuk fotosintesis karena warna merupakan sinar yang paling buruk untuk proses fotosintesis, jadi pertumbuhan kecambah yang terjadi juga akan paling lambat.

Dapat dilihat dibawah ini perbandingan panjang gelombang antara warna-warna yang dipancarkan oleh matahari.

Spektrum cahaya merah mempunyai panjang gelombang antara 610–700 nm.
Spektrum cahaya hijau–kuning mempunyai panjang gelombang 510–600 nm
Spektrum cahaya biru memiliki panjang gelombang antara 410–500 nm.
Spektrum cahaya violet mempunyai panjang gelombang < 400 nm.


Baca Selanjutnya » Kenapa dalam fotosintesis cahaya hijau tidak dipakai ?

Fungsi Unsur Hara Makro dan Mikro

Fungsi Unsur Hara Makro dan Mikro, Fungsi Unsur Hara Makro dan Mikro, Fungsi Unsur Hara Makro dan Mikro Fungsi unsur hara makro dan mikro dan unsur esensial lainya ada di blog ini, temen-temen yang sedang bingung nyari fungsinya bisa mampir dimari dan bisa mendapatkan yang di inginkan.

1. Sebutkan fungsi-fungsi unsur hara makro (S, P, Ca dan Mg) pada tanaman ?

a. Phospat ( P )
Merangsang pembungaan dan pembuahan
Merangsang pertumbuhan akar
Merangsang pembentukan biji
Merangsang pembelahan sel tanaman dan memperbesar jaringan sel
Tanaman yang kekurangan unsur P gejaalanya : pembentukan buah/dan biji berkurang, kerdil, daun berwarna keunguan atau kemerahan ( kurang sehat)
Untuk pengangkutan energi hasil metabolisme dalam tanaman
b. Belerang (Sulfur = S)
Berperan dalam pembentukan bintil-bintil akar
Merupakan unsur yang penting dalam beberapa jenis protein dalam bentuk cystein, methionin serta thiamine
Membantu pertumbuhan anakan produktif
Merupakan bagian penting pada tanaman-tanaman penghasil minyak, sayuran seperti cabai, kubis dan lain-lain
Membantu pembentukan butir hijau daun
c. Kalsium (Ca)
Merangsang pembentukan bulu-bulu akar
Berperan dalam pembuatan protein atau bagian yang aktif dari tanaman
Memperkeras batang tanaman dan sekaligus merangsang pembentukan biji
Menetralisir asam-asam organik yang dihasilkan pada saat metabolisme
Kalsium yang terdapat dalam batang dan daun dapat menetralisirkan senyawa atau suasana keasaman tanah
Meningkatkan produksi biji dan benih
Menetralisasi racun pada tanaman
Mempengaruhi jumlah pengambilan bahan makanan pada tanaman
Mencegah rontok bunga dan buah
Memperkuat batang
2. Sebutkan  fungsi – fungsi unsur hara mikro (Mo, Fe, Cu, Zn, B, Cl dan Mn) bagi tumbuhan ?

a. Molibdenum (Mo)
Berperan dalam mengikat (fiksasi) N oleh mikroba pada leguminosa
Sebagai katalisator dalam mereduksi N
Berguna bagi tanaman jeruk dan sayuran
b. Besi (Fe)
Sebagai penyusun klorofil, protein, enzim, dan berperanan dalam perkembangan kloroplas
Sebagai pelaksana pemindahan electron dalam proses metabolisme. Proses tersebut misalnya reduksi N2, reduktase solfat, reduktase nitrat

c. Tembaga (Cu)
Mengaktifkan enzim sitokrom-oksidase, askorbit-oksidase, asam butirat-fenolase dan laktase.
Berperan dalam metabolisme protein dan karbohidrat, berperan terhadap perkembangan tanaman generatif, berperan terhadap fiksasi N secara simbiotis dan penyusunan lignin.
d. Seng (Zincum = Zn)
Dalam jumlah yang sangat sedikit dapat berperan dalam mendorong perkembangan pertumbuhan
Diperkirakan persenyawaan Zn berfungsi dalam pembentukan hormon tumbuh (auxin) dan penting bagi keseimbangan fisiologis
Berperan dalam pertumbuhan vegetatif dan pertumbuhan biji/buah
e. Boron (Bo)
Bertugas sebagai transportasi karbohidrat dalam tubuh tanaman
Meningkatkan mutu tanaman sayuran dan buah-buahan
Berperan dalam pembentukan/pembiakan sel terutama dalam titik tumbuh pucuk, juga dalam pembentukan tepung sari, bunga dan akar
Boron berhubungan erat dengan metabolisme Kalium (K) dan Kalsium (Ca)
Unsur hara Bo dapat memperbanyak cabang-cabang nodule untuk memberikan banyak bakteri dan mencegah bakteri parasit
f. Khlor (Cl)
Memperbaiki dan meninggikan hasil kering dari tanaman seperti: tembakau, kapas, kentang dan tanaman sayuran

3. Sebutkan fungsi-fungsi pupuk esensial (Na, Si, Co, Mo, Se, Ni dan Cr) bagi tumbuhan ?

a. Natrium (Na)
Natrium mempunyai sifat higroskopis, artinya bahwa unsur ini mudah  menyerap air dan menahan aircukup kuat, sehingga tanaman tahan akan kekeringan.
Unsur Natrium  membantu proses transportasi dalam tubuhtanaman sehingga hasil-hasil  fotosintesis dapat dibawa dan diakumulasi pada tempat-tempat penyimpanan.
b. Silikon (Si)
Dapat meningkatkan hasil melalui peningkatan efisiensi fotosintesis
Menginduksi ketahanan terhadap hama dan penyakit
Tersimpan dalam dinding sel yang mengakibatkan sifat mekanis sel yaitu kaku atau elastis.
c. Cobalt (Co)
Untuk Fiksasi nitrogen dalam penyerapan unsur N (Nitrogen), Cobalt dapat digantikan perannya dengan Natrium (Na), dan Molibdenum (Mo)

d. Nikel (Ni)
Pada tanaman Keras/tumbuhan tingkat tinggi sebagai aktivasi urease (enzim yang berperan dalam metabolisme Nitrogen untuk proses perombakan urea).
Pada tanaman tingkat rendah, sebagai kofaktor beberapa enzim.
Perannya dapat digantikan dengan  Seng (Zn) dan Besi (Fe).
e. Molibdenum (Mo)
Sebagai kofaktor pada beberapa enzim penting untuk membangun asam amino.

Baca Selanjutnya » Fungsi Unsur Hara Makro dan Mikro

Nama Latin Tanaman Sayuran

Nama Latin Tanaman Sayuran, ane posting ini gara-gara banyak temen yang minta tolong suruh nyariin dan akhirnya ane udah berusaha nyari dan udah ketemu. Silahkan dimanfaatkan yang maksimal.

Nama latin adalah cara penamaan yang dipakai universal untuk membedakan suatu spesies dengan spesies lainnya, karena satu spesies yang sama bisa memiliki banyak nama untuk daerah yang berbeda, bahkan dalam daerah yang sama orang yang berbeda bisa memberi nama yang berbeda untuk satu spesies yang sama. Berikut nama latin untuk beberapa tanaman sayuran:

Adas Florence = Foeniculum vulgare
Bawang merah = Allium ascalonicum
Bawang prei = Allium ampeloparsum var. Porrum
Bawang putih = Allium sativum
Bayam Tahun = Amaranthus hybridus
Beligo = Benincasa hispida
Belinjo = Gnetum gnemon
Beluntas = Pluchea indica
Bit = Beta vulgaris
Brokoli = Brassica oleracea var. Italica
Buncis = Phaseolus vulgaris
Canola = Brassica napus
Celeriac = Apium graveolens var. Rapaceum
Daun bawang = Allium schoenoprasum
Daun Gedi = Abelmoschus manihot
Gambas = Luffa acutangula
Genjer = Limnocharis flava
Jamur Shiitake = Lentinula edodes
Kacang Biduk = Dolichos lablab
Kacang Gude= Cajanus cajan
Kacang Panjang = Vigna sinensis
Kailan keriting = Brassica oleracea var. Acephala
Kangkung Air = Ipomoea aquatica
Kangkung Darat = Ipomoea reptana
Kara Benguk = Mucuna pruriens var. utilis
Katuk = Sauropus androgynus
Kecipir = Psophocarpus tetragonolobus
Kembang kol = Brassica oleracea var. Botrytis
Kluwih = Artocarpus camansi
Kolrabi = Brassica oleracea var. Gongylodes
Kremah = Alternanthera sessilis
Kubis = Brassica oleracea var. Capitata
Kubis Brussel = Brassica oleracea var. Gemmifera
Kubis Savoy = Brassica oleracea var. Sabauda
Labu Siam = Sechium edule
Lobak = Brassica rapa var. Rapa
Lobak = Raphanus sativus var. hortensis
Lobak merah = Raphanus sativus
Mangkokan = Nothopanax scutellarium
Nangka = Artocarpus heterophyllus
Pare = Momordica charantia
Parsley = Petroselinum crispum var. crispum
Petai = Parkia speciosa
Petai Cina = Leucaena leucocephala
Peterseli = Petroselinum crispum var. Crispum
Ranti = Solanum nigrum
Sawi Daging = Brassica juncea
Sawi Hijau = Brassica rapa var. parachinensis
Selada = Lactuca sativa
Selada air = Rorippa nasturtium-aquaticum
Seledri = Apium graveolens var. Dulce
Terong = Solanum melongena
Terong Pipit = Solanum torvum
Terubuk = Saccharum edule
Terung Belanda = Cyphomandra betacea
Timun = Cucumis sativus
Tomat = Solanum lycopersicum
Turi = Sesbania grandiflora
Ubi = Pastinaca sativa
Wortel = Daucus carota
Baca Selanjutnya » Nama Latin Tanaman Sayuran

Fungsi Unsur Si (Silikon) pada tanaman


PERAN UNSUR Si (SILIKON) PADA TANAMAN TEBU
www.yonny-koen.blogspot.com
www.upnjatim.ac.id


(Sumber : Edo Yukamgo dan Nasih Widya Yuwono)
(http://www.ilmugizi.info/PERAN-SILIKON-SEBAGAI-UNSUR-BERMANFAAT-PADA-TANAMAN-TEBU.html )

Kesuburan tanah merupakan faktor vital yang turut mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Namun demikian, saat ini petani belum memiliki pedoman khusus untuk mengetahui apakah suatu tanah masih subur atau tidak. Untuk itu dengan beberapa pengujian yang dapat dilakukan pada uraian ini setidaknya dapat menjadi sebuah pedoman sementara untuk mengindikasikan tingkat kesuburan suatu lahan sebelum alat test kesuburan tanah tersebut dapat diadopsi.
Tanah merupakan medium untuk kelangsungan hidup makluk di bumi. Tanah tersusun dari lima penyusun utama yaitu:
Bahan bahan mineral, Air, Udara, Bahan organik dan jasad renik. Dalam komposisi penyusun tanah tersebut terdapat mineral dan unsur unsur yang sangat diperlukan bagi makluk hidup terutama tanaman. Unsur dan mineral tersebut ada yang mutklak diperlukan tanaman misalnya oksigern, nitrogen dll, dan ada yang hanya menunjang pertumbuhannya saja, dalam artian, walaupun tanpa adanya unsur tersebut, tumbuhan masih tetap bisa hidup.
Unsur hara makro dan mikro adalah unsur hara yang sangat dibutuhkan tanaman. Tanpa unsur tersebut dapat dipastikan bahwa tanaman tidak akan bisa tumbuh dengan optimal. Dan ada lagi unsur yang bisa membantu kelangsungan hidup tanaman adalah unsur desirable. Unsur desirable adalah unsur yang bisa membantu kehidupan tanaman, namun tidak semua tanaman membutuhkan unsur tersebut, hanya tanaman tertentu saja yang menggunakan unsur ini. Sebenarnya walaupun tanpa adanya unsur ini tanaman akan tetap bisa hidup. Contoh tanaman yang menggunakan unsur desirable adalah tanaman tebu, tanaman tebu menggunakan unsur desirebel berupa silikat untuk menunjang kelangsungan hidupnya, yaitu untuk memperbanyak dan mempertajam bulu bulu daun, dengan demikian hama pengganggu akan bisa dikendalikan. Pada umumnya pembentukan mineral dalam tanah terbagi menjadi 2 yaitu: 1, kelompok mineral bukan silikat, dan 2, kelompok mineral silikat.

A. PERAN SILIKON SEBAGAI UNSUR BERMANFAAT PADA TANAMAN TEBU
Unsur bermanfaat merupakan unsur yang berguna bagi pertumbuhan tanaman tetapi tidak memenuhi kaidah unsur hara esensial karena jika unsur ini tidak ada, pertumbuhan tanaman tidak akan terganggu. Unsur-unsur yang termasuk menguntungkan bagi tanaman adalah Natrium (Na), Cobalt (Co), Chlor (Cl), dan Silikon (Si). Silikon (Si) merupakan unsur kedua terbanyak setelah oksigen (O) dalam kerak bumi dan Si juga berada dalam jumlah yang banyak pada setiap tanah.
Beberapa kajian menjelaskan bahwa Si memiliki beberapa peran penting terhadap tanaman tertentu seperti padi (Oryza sativa), jagung (Zea mays), dan tebu (Saccharum officinarum). Tebu merupakan salah satu monokotil akumulator Si yaitu tanaman yang serapan Si-nya melebihi serapannya terhadap air. Selama pertumbuhan (1 tahun), tebu menyerap Si sekitar 500-700 kg per ha lebih tinggi dibanding unsur-unsur lainnya. Si (silikon) dapat memberikan efek positif bagi tanaman tebu melalui dua hal yaitu pengaruh tak langsung pada tanah dengan meningkatkan ketersediaan P dan pengaruh langsung pada tanaman, seperti meningkatkan efisiensi fotosintesa, menginduksi ketahanan terhadap cekaman biotik dan abiotik seperti hama dan penyakit, keracunan Fe, Al, dan Mn, mengurangi kerobohan dan memperbaiki erectness (ketegakan) daun dan batang, serta memperbaiki efisiensi penggunaan air. Untuk kedepannya, diharapkan pengetahuan tentang peranan unsur-unsur bermanfaat lainnya, seperti Natrium (Na), Cobalt (Co), Selenium (Se), dan Vanadium (Va), perlu dikembangkan dan disebarluaskan agar dapat meningkatkan produksi tanaman pertanian.

Dalam pertumbuhannya tanaman membutuhkan unsur hara yang cukup banyak, baik hara makro maupun hara mikro, yang berasal dari alam atau melalui penambahan pupuk ke dalam tanah. Selain pupuk makro atau mikro dan pupuk organik, dapat juga diterapkan pemberian pupuk Si. Beberapa kajian menjelaskan bahwa Si memiliki beberapa peranan penting pada tebu.
Pemberian Si dalam tanah dapat meningkatkan ketersediaan P dan mengurangi aktifitas logam-logam beracun seperti Al, Fe dan Mn. Selain itu Si juga dapat meningkatkan ketahanan tanaman terhadap serangan hama dan penyakit.
Semua peranan ini diharapkan secara langsung dapat meningkatkan produksi tanaman tebu sehingga kebutuhan gula nasional terpenuhi.

B. SILIKON (Si) SEBAGAI UNSUR BERMANFAAT
Dalam terminologi kesuburan tanah, terdapat 13 unsur hara yang diperlukan tanaman yaitu hara makro (N, P, K, Ca, Mg, S) dan hara mikro (Fe, Mn, Zn, B, Cu, Mo), hara-hara tersebut dapat meningkatkan dan memelihara hasil tanaman. Hara makro dibutuhkan tanaman dalam jumlahyang banyak, sedangkan hara mikro dibutuhkan dalam jumlah yang lebih sedikit. Unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman untuk pertumbuhan dan metabolisme disebut unsur hara esensial. Unsur hara dapat mempunyai fungsi sebagai konstituen dari suatu struktur organik tanaman, aktifator reaksi enzim atau pembawa muatan (charge carrier) dan osmoregulator. Arnoun dan Stout (1939) dalam Roesmarkam dan Yuwono (2002) mengemukakan konsep unsure hara esensial, yaitu :
1. Tanaman tidak mampu menyelesaikan daur hidupnya tanpa kehadiran unsure tersebut
2. Fungsi dari unsur tersebut tidak mampu digantikan oleh unsur lainnya
3. Unsur tersebut harus secara langsung terlibat di dalam metabolisme tanaman. Sebagai contoh, sebagai komponen dari konstituen tanaman yang penting seperti enzim atau dibutuhkan untuk tahapan metabolik tertentu seperti reaksi enzim. Kehadiran dan konsentrasi unsur di dalam tanaman bukan merupakan asas esensialitas suatu unsur. Tanaman tidak dapat secara selektif menyerap unsur hara yang esensial bagi pertumbuhan dan perkembangannya. Tanaman juga menyerap unsur yang tidak diperlukan untuk pertumbuhannya dan bahkan bisa jadi unsur yang meracun. Selain hara esensial, terdapat juga hara non-esensial yang dalam kondisi agroklimat tertentu bisa memperkaya pertumbuhan tanaman dengan mendorong proses fisiologi. Hara tersebut disebut dengan hara fungsional atau hara bermanfaat (pembangun) (Savant et.al., 1999).

C. PERAN SILIKON (Si) PADA TANAMAN TEBU (Saccharum officinarum)
Tanaman menyerap Si dalam jumlah banyak, melebihi unsur-unsur lainnya. Tanaman monokotil seperti family rerumputan (graminae) menyerap Si lebih banyak dibanding tanaman kacang-kacangandan dikotil. Berdasarkan kemampuan menyerap Si tanaman dibagi menjadi tiga golongan yaitu (Roesmarkam dan Yuwono, 2002):
a. Gramineae basah seperti padi sawah, mendong menyerap SiO2 sekitar 10-15%,
b. Gramineae kering seperti tebu dan rumput- rumputan sekitar 1-3% dan,
c. Tanaman dikotil dan leguminose sekitar hanya 0,5%.

Ada tiga model berbeda dalam penyerapan Si oleh tanaman yang menyebabkan perbedaan dalam akumulasi Si yaitu (Mitani dan Ma, 2005):
a. Penyerapan aktif Tanaman dengan model penyerapan aktif menyerap Si lebih cepat dari pada menyerap air, sehingga menghasilkan penurunan kandungan Si pada larutan.
b. Penyerapan pasif Tanaman dengan model penyerapan pasif menyerap Si dengan tingkatan yang sama dengan menyerap air, tetapi tidak ada perubahan konsentrasi yang signifikan dalam larutan yang berhasil diamati.
c. Rejective uptake Model rejective uptake cenderung untuk mengeluarkan Si yang dibuktikan dengan terjadinya peningkatan konsentrasi Si dalam larutan.

Tebu merupakan salah satu monokotil akumulator Si yaitu tanaman yang serapan Si-nya melebihi serapannya terhadap air. Selama pertumbuhan (1 tahun), tebu menyerap Si sekitar 500 700 kg per ha lebih tinggi dibanding unsur- unsure lainnya. Sebagai pembanding, dalam kurun waktu yang sama tebu menyerap antara 100-300 kg K, 40-80 kg P, dan 50-500 kg N per ha.
Tebu menyerap Si dalam bentuk H4SiO4, yaitu suatu bentuk Si yang tidak bermuatan sehingga relatif tidak mobil dalam tanaman (Fox et. al., 1967). Karena itu, konsentrasi Si dalam tanaman tebu sangat tergantung kepada konsentrasi Si yang larut dalam air tanah. Pergerakan Si dari akar ke batang dan bagian tanaman lainnya mengikuti aliran air. Air diserap akar, masuk ke batang kemudian menguap lewat batang/daun. Si terakumulasi dalam sel epidermis tebu, kemudian berintegrasi kedalamnya sehingga akan memberikan kekuatan kepada batang dan daun tebu. Distribusi Si dalam batang dan daun tergantung pada laju evapotranspirasi tanaman (Savant et. al., 1999). Si dapat memberikan efek positif bagi tanaman tebu, dengan mekanisme yang belum sepenuhnya dipahami.
Si mempengaruhi pertumbuhan tanaman tebu melalui dua hal, yaitu :
1. Pengaruh tak langsung pada tanah.
2. Pengaruh langsung pada tanaman. Samuel (1969) menyatakan bahwa hara Si memiliki banyak peranan pada tanaman tebu, terutama pada tanah-tanah tropis seperti Oxisol, Ultisol, Entisol, dan Histosol (tanah organik).
Beberapa kajian menjelaskan bahwa Si dapat meningkatkan hasil melalui peningkatan efisiensi fotosintesis dan menginduksi ketahanan terhadap hama dan penyakit (Matichenkov and Calvert, 2002)

I. HASIL DAN PEMBAHASAN
Beberapa tanaman Graminae membutuhkan Silikon (Si) untuk mencapai kondisi kesehatan maksimum dan ketahanan terhadap hama dan penyakit (Zeyen, 2002). Pemberian Si dapat meningkatkan ketahanan tebu pada beberapa serangan penyakit seperti karat pada daun tebu (sugarcane rust), bintik-bintik hitam/coklat (leaf freckle), dan noda cincin (sugarcane ringspot) (Matichenkov and Calvert, 2002). Penyakit karat disebabkan oleh jamur Puccinia kuehnii, bintik hitam oleh Dimeriella sacchari, sedangkan penyakit noda cincin disebabkan oleh jamur Helminthosporium sacchari (Handoyo, 1982).
Tanaman tebu dapat diserang bermacam- macam hama, baik dari golongan serangga maupun non serangga. Hamahama dari golongan serangga tidak kurang dari 131 jenis, tetapi yang kerap merugikan adalah penggerek pucuk (top borer) yang disebabkan oleh Scirpophaga novella F. dan penggerek batang (stalk borer) yang disebabkan oleh Chillo sacchariphagus (Williams et. al., 1989). Couhault (2008) melaporkan serangan penggerek pucuk pada tanaman tebu berumur 2 bulan dapat menurunkan hasil gula hingga 97 %.
Serangan hama penggerek batang dan pucuk dapat berkurang dengan pemberian Si. Larva penggerek sebelum memulai serangan ke batang, terlebih dulu memakan jaringan epidermis penutup daun atau batang. Adanya kristal Si dalam jaringan tersebut menghindari terjadinya serangan, karena pada saat itu serangga penyebab penggerek masih memiliki rahang yang rapuh. Rahang serangga akan rusak bila menggigit kristal Si. Mekanisme ini terjadi juga pada hama penggerek pucuk (Anonim, 2006). Sebaliknya, jaringan epidermis akan menjadi lunak apabila kebanyakan pupuk N sehingga mendorong kerentanan tebu terhadap serangan penggerek. Karena itu, kombinasi N dan Si tampaknya cukup baik dalam mendorong pertumbuhan tebu dan sekaligus meningkatkan ketahanan tebu terhadap penggerek (Elawad et. al., 1982).

BERLIAN SABRINA MAZAYA /1125010017 /AGROTEKNOLOGI /PERTANIAN
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL "VETERAN" JAWA TIMUR

Baca Selanjutnya » Fungsi Unsur Si (Silikon) pada tanaman

Makalah Agroforestry


AGROFORESTRY
1.  Agroforestri: ilmu baru, teknik lama
Penanaman berbagai macam pohon dengan atau tanpa tanaman setahun (semusim) pada lahan yang sama sudah sejak lama dilakukan petani di Indonesia. Contoh ini dapat di lihatdengan mudah pada lahan pekarangan di sekitar tempat tinggal petani.  Praktek ini semakinmeluas belakangan ini khususnya di daerah pinggiran hutan dikarenakan Ketersediaan lahan yang   semakin   terbatas Konversi   hutan   alam   menjadi   lahan   pertanian   disadari menimbulkan banyak masalah seperti penurunan kesuburan tanah, erosi, kepunahan flora dan  fauna,  banjir,  kekeringan  dan  bahkan  perubahan  lingkungan  global.  Masalah  ini bertambah berat dari waktu ke waktu sejalan dengan meningkatnya luas areal hutan yang dikonversi menjadi lahan usaha lain. Maka lahirlah agroforestri sebagai suatu cabang ilmu pengetahuan baru di bidang pertanian atau kehutanan.   Ilmu ini berupaya mengenali dan mengembangkan keberadaan sistem agroforestri yang telah dikembangkan petani di daerah beriklim  tropis  maupun  beriklim  subtropis  sejak  berabad-abad  yang  lalu.  Agroforestri merupakan gabungan ilmu kehutanan dengan agronomi, yang memadukan usaha kehutanan dengan   pembangunan   pedesaan   untuk   menciptakan   keselarasan   antara   intensifikasi pertanian dan pelestarian hutan.
Agroforestri diharapkan bermanfaat selain untuk mencegah perluasan tanah terdegradasi, melestarikan  sumberdaya  hutan,  meningkatkan  mutu  pertanian  serta  menyempurnakan intensifikasi  dan  diversifikasi  silvikultur.  Sistem  ini  telah  dipraktekkan  oleh  petani  di berbagai tempat di Indonesia selama berabad-abad (Michon dan de Foresta, 1995), misalnya sistem ladang berpindah, kebun campuran di lahan sekitar rumah (pekarangan) dan padang penggembalaan. Contoh lain yang umum dijumpai di Jawa adalah mosaik-mosaik padat dari hamparan persawahan dan tegalan produktif yang diselang-selingi oleh rerumpunan pohon.
Sebagian dari rerumpunan pohon tersebut mempunyai struktur yang mendekati hutan alam dengan beraneka-ragam spesies tanaman. Berdasarkan motivasi yang dimiliki petani, terdapat dua sistem terbentuknya agroforestri di lapangan   yaitu   sistem   bercocok   tanam   "tradisional"   dan   sistem   "modern".   Sistem "tradisional"  adalah  sistem  yang  "dikembangkan  dan  diuji"  sendiri  oleh  petani,  sesuai  dengan  keadaan  alam  dan  kebutuhan  atau  permintaan  pasar,  serta  sejalan  dengan perkembangan  pengalamannya  selama  bertahun-tahun  dari  satu  generasi  ke  generasi berikutnya.   Dalam sistem “tradisional”, pengembangan bercocok tanam biasanya hanya didasarkan  pada  usaha  coba-coba  (trial  and  error),  tanpa  penelitian  formal  maupun bimbingan  dari  penyuluh/petugas  lapangan.   Dalam  sistem  bercocok  tanam  "modern", gagasan dan teknologi berasal dari hasil-hasil penelitian.
2.  Jenis Agroforestri
Dalam   Bahasa   Indonesia,   kata   Agroforestry   dikenal   dengan   istilah   wanatani   atau agroforestri  yang  arti  sederhananya  adalah  menanam  pepohonan  di  lahan  pertanian. Menurut De Foresta dan Michon (1997), agroforestri dapat dikelompokkan menjadi dua sistem, yaitu sistem agroforestri sederhana dan sistem agroforestri kompleks,.
2.1  Sistem Agroforestri Sederhana
Sistem agroforestri sederhana adalah suatu sistem pertanian di mana pepohonan ditanam secara tumpang-sari dengan satu atau lebih jenis tanaman semusim. Pepohonan bisa ditanam sebagai pagar mengelilingi petak lahan tanaman pangan, secara acak dalam petak lahan, atau dengan pola lain misalnya berbaris dalam larikan sehingga membentuk lorong/pagar.
Jenis-jenis pohon yang ditanam juga sangat beragam, bisa yang bernilai ekonomi tinggi misalnya kelapa, karet, cengkeh, kopi, kakao (coklat), nangka, belinjo, petai, jati dan mahoni atau yang bernilai ekonomi rendah seperti dadap, lamtoro dan kaliandra. Jenis tanaman semusim biasanya berkisar pada tanaman pangan yaitu padi (gogo), jagung, kedelai, kacang- kacangan, ubi kayu, sayur-mayur dan rerumputan atau jenis-jenis tanaman lainnya.
Bentuk  agroforestri  sederhana  yang  paling  banyak  dibahas  di  Jawa  adalah  tumpangsari. Sistem ini, dalam versi Indonesia, dikenal dengan “taungya” yang diwajibkan di areal hutan jati  di  Jawa  dan  dikembangkan  dalam  rangka  program  perhutanan  sosial  dari  Perum Perhutani. Pada lahan tersebut petani diijinkan untuk menanam tanaman semusim di antara pohon-pohon jati muda. Hasil tanaman semusim diambil oleh petani, namun petani tidak diperbolehkan menebang atau merusak pohon jati dan semua pohon tetap menjadi milik Perum  Perhutani.  Bila  pohon  telah  menjadi  dewasa,  tidak  ada  lagi  pemaduan  dengan tanaman semusim karena adanya masalah naungan dari pohon. Jenis pohon yang ditanam khusus untuk menghasilkan kayu bahan bangunan (timber) saja, sehingga akhirnya terjadi perubahan  pola  tanam  dari  sistem  tumpangsari  menjadi perkebunan  jati  monokultur.
Sistem sederhana tersebut sering menjadi penciri umum pada pertanian komersial. Dalam perkembangannya, sistem agroforestri sederhana ini juga merupakan campuran dari beberapa jenis pepohonan tanpa adanya tanaman semusim. Sebagai contoh, kebun kopi biasanya  disisipi  dengan  tanaman  dadap  (Erythrina)  atau  kelorwono  disebut  juga  gamal (Gliricidia) sebagai tanaman naungan dan penyubur tanah. Contoh tumpangsari lain yang umum dijumpai di daerah Ngantang, Malang adalah menanam kopi pada hutan pinus (lihat box1).










Gambar 1. Sistem agroforestri sederhana di Ngantang, Malang Jawa Timur. Kopi dan pisang ditanam oleh petani di antara pohon pinus milik Perum Perhutani (Gambar kiri). Gliricidia dan pisang ditanam sebagai naungan pohon kopi (Gambar kanan) (Foto: Meine van Noordwijk).
Contoh Kasus 1. Tumpangsari pinus dan kopi di daerah Ngantang, Malang. Pada tahun 1974 Perum Perhutani menawarkan kepada petani program tumpangsari dan setiap petani yang mengikuti program ini berhak mengelola tanah seluas 0.5 ha. Setiap petani memperoleh bibit mahoni atau pinus untuk ditanam. Mahoni dan pinus merupakan pohon penghasil timber sebagai sumber keuntungan bagi Perhutani.
Lahan dibuka dari hutan primer, kemudian ditanami jagung atau ubi kayu di antara pohon- pohon pinus yang baru ditanam.   Sistem ini terus berlangsung sampai tanaman pinus berumur 5 tahun, kemudian karena pertumbuhan mahoni kurang baik Perhutani menawarkan kepada masyarakat untuk menanam kopi di antara tanaman pinus, asalkan keamanan dan perawatan pohon pinus tetap terjaga. Tawaran ini disambut baik oleh petani setempat karena harga biji kopi cukup menarik. Bibit kopi yang ditanam adalah swadaya petani setempat. Selain kopi, petani juga menanam pisang sebagai naungan kopi. Hasil buah pisang dikirim ke Pulau Bali sebagai bahan dasar pembuat keripik pisang. Hasil penjualan pisang ini sepenuhnya milik petani. Sedang hasil penjualan biji kopi dibagi antara petani dan Perhutani, 2/3 hasil untuk petani dan   1/3 untuk Perhutani.
Penyadapan getah pinus dilakukan bila pinus telah berumur sekitar 20 tahun, penyadapan dilakukan oleh petani dan hasil sadapan dibeli Perhutani seharga Rp 1000 per kg (harga saat ini, Januari 2002). Hasil timber tetap menjadi milik Perhutani. Contoh kasus ini memberikan ilustrasi bahwa keberhasilan program konservasi alam ini sangat ditentukan oleh keterlibatan dan terjaminnya kesejahteraan masyarakat setempat.
Bentuk  agroforestri  sederhana  ini  juga  bisa  dijumpai  pada  sistem  pertanian  tradisional. Pada daerah yang kurang padat penduduknya, bentuk ini timbul sebagai salah satu upaya petani  dalam  mengintensifkan  penggunaan  lahan  karena  adanya  kendala  alam,  misalnya tanah rawa. Sebagai contoh, kelapa ditanam secara tumpangsari dengan padi sawah di tanah rawa di pantai Sumatera.
Perpaduan   pohon   dengan   tanaman   semusim   ini   juga   banyak   ditemui   di   daerah berpenduduk padat, seperti pohon-pohon randu yang ditanam pada pematang-pematang sawah di daerah Pandaan (Pasuruan, Jawa Timur), kelapa atau siwalan dengan tembakau di Sumenep–Madura (Gambar 2). Contoh lain, tanah-tanah yang dangkal dan berbatu seperti di Malang Selatan ditanami jagung dan ubikayu di antara gamal atau kelorwono (Gliricidia sepium).









Gambar 2. Agroforestri Sederhana: Tembakau ditanam di antara barisan pohon siwalan di Sumenep, Madura. (Foto. Widianto)
2.2  Sistem Agroforestri Kompleks: Hutan dan Kebun
Sistem agroforestri kompleks, adalah suatu sistem pertanian menetap yang melibatkan banyak jenis tanaman pohon (berbasis pohon) baik sengaja ditanam maupun yang tumbuh secara alami  pada  sebidang  lahan  dan  dikelola  petani  mengikuti  pola  tanam  dan  ekosistem menyerupai hutan. Di dalam sistem ini, selain terdapat beraneka jenis pohon, juga tanaman perdu, tanaman memanjat (liana), tanaman musiman dan rerumputan dalam jumlah banyak. Penciri utama dari sistem agroforestri kompleks ini adalah kenampakan fisik dan dinamika di dalamnya yang mirip dengan ekosistem hutan alam baik hutan primer maupun hutan sekunder, oleh karena itu sistem ini dapat pula disebut sebagai Agroforest (ICRAF, 1996).
Berdasarkan jaraknya terhadap tempat tinggal, sistim agroforestri kompleks ini dibedakan menjadi dua, yaitu kebun atau pekarangan berbasis pohon (home garden) yang letaknya di sekitar tempat tinggal dan ‘agroforest’, yang biasanya disebut ‘hutan’ yang letaknya jauh dari tempat tinggal (De Foresta, 2000). Contohnya ‘hutan damar’ di daerah Krui, Lampung Barat atau ‘hutan karet’ di Jambi.
Terbentuknya Agroforestri Kompleks
2.2.1   Pekarangan
Pekarangan atau kebun adalah sistem bercocok tanam berbasis pohon yang paling terkenal di Indonesia selama berabad-abad. Kebun yang umum dijumpai di Jawa Barat adalah sistem pekarangan, yang diawali dengan penebangan dan pembakaran hutan atau semak belukar yang kemudian ditanami dengan tanaman semusim selama beberapa tahun (fase kebun). Pada fase  ke  dua  pohon  buah-buahan  (durian,  rambutan,  pepaya,  pisang)  ditanam  secara tumpang sari dengan tanaman semusim (fase kebun campuran). Pada fase ketiga beberapa tanaman asal hutan yang bermanfaat dibiarkan tumbuh sehingga terbentuk pola kombinasi tanaman asli setempat misalnya bambu, pepohonan penghasil kayu lainnya dengan pohon buah-buahan (fase talun). Pada fase ini tanaman semusim yang tumbuh di bawahnya amat terbatas karena banyaknya naungan. Fase perpaduan berbagai jenis pohon ini sering disebut dengan fase ‘talun’.  Dengan demikian pembentukan talun memiliki tiga fase yaitu kebun, kebun campuran dan talun.





Gambar 3. Perkembangan sistem kebun talun (de Foresta et al, 2000).
2.2.2   Agroforest
Agroforest  biasanya  dibentuk  pada  lahan  bekas  hutan  alam  atau  semak  belukar  yang biasanya diawali dengan penebangan dan pembakaran semua tumbuhan. Pembukaan lahan ini biasanya dilakukan pada musim kemarau. Pada awal musim penghujan, lahan ditanami padi gogo yang disisipi tanaman semusim lainnya (misalnya jagung dan cabe) selama satu-dua kali panen. Setelah dua kali panen tanaman semusim, intensifikasi penggunaan lahan ditingkatkan dengan menanam pepohonan misalnya karet atau damar atau tanaman keras lainnya. Pada  periode  awal  ini,  terdapat  perpaduan  sementara  antara  tanaman  semusim dengan  pepohonan.  Pada  saat  pohon  sudah  dewasa,  petani  masih  bebas  memadukan bermacam-macam tanaman tahunan lain yang bermanfaat dari segi ekonomi dan budaya . Misalnya, petani sering menyisipkan pohon durian atau duku, di antara pohon karet atau damar. Tanaman semusim tidak ada lagi karena adanya masalah naungan. Tumbuhan asli asal hutan yang bermanfaat bagi petani tetap dibiarkan kembali tumbuh secara alami, dan dipelihara di antara tanaman utama. Contoh pepohonan yang berasal dari hutan misalnya pulai, kayu laban, kemenyan dan sebagainya. Pemaduan terus berlangsung pada keseluruhan masa  keberadaan  agroforest.  Tebang  pilih  akan  dilakukan  bila  tanaman  pokok  mulai terganggu  atau  bila  pohon  telah  terlalu  tua  sehingga  tidak  produktif  lagi.  Ditinjau  dari letaknya, agroforest biasanya berada di tepian hutan (forest margin) atau berada ditengah-tengah antara sistem pertanian dan hutan. Berdasarkan uraian di atas, semua agroforest memiliki  ciri  utama  yaitu  tidak  adanya  produksi  bahan  makanan  pokok.
Namun sebagian  besar  kebutuhan  petani  yang  lain  tersedia  pada  sistem  ini,  misalnya  makanan tambahan, persediaan bahan bangunan dan cadangan pendapatan tunai yang lain. bentuk,  fungsi,  dan  perkembangan  agroforest  itu  dipengaruhi  oleh berbagai faktor ekologis dan sosial (FAO dan IIRR, 1995), antara lain sifat dan ketersediaan sumberdaya  di  hutan,  arah  dan  besarnya  tekanan  manusia  terhadap  sumberdaya  hutan, organisasi dan dinamika usahatani yang dilaksanakan, sifat dan kekuatan aturan sosial dan adat  istiadat  setempat,  tekanan  kependudukan  dan  ekonomi,  sifat  hubungan  antara masyarakat setempat dengan ‘dunia luar’, perilaku ekologis dari unsur-unsur pembentuk agroforest, stabilitas struktur agroforest, cara-cara pelestarian yang dilakukan.
Dibandingkan sistem agroforestri sederhana, struktur dan penampilan fisik agroforest yang mirip  dengan  hutan  alam  merupakan  suatu  keunggulan  dari  sudut  pandang  pelestarian lingkungan (Gambar 4). Pada kedua sistem agroforestri tersebut, sumberdaya air dan tanah dilindungi dan dimanfaatkan. Kelebihan agroforest terletak pada pelestarian sebagian besar keaneka-ragaman flora dan fauna asal hutan alam.









Gambar 4. Agroforest Kompleks: Kebun damar di Krui, Lampung Barat (De Foresta et al, 2000)
3.  Aneka Praktek Agroforest di Indonesia
Indonesia memiliki dua ratus juta penduduk dari berbagai kelompok etnis sehingga muncul aneka-ragam pilihan sistem usahatani. Selain itu, hubungan penduduk dengan dunia luar, diwakili oleh para pedagang Cina, Arab dan Eropa, telah berkembang sejak lama sehingga permintaan pasarpun juga beraneka ragam. Semua unsur ini menjadi pendorong proses pembangunan bermacam-macam agroforest. Sekarang ini sistem agroforest sepertinya hanya diterapkan oleh petani-petani kecil. Usaha- usaha agroforest kebanyakan bisa ditemukan di sekitar pemukiman penduduk.   Sekeliling rumah merupakan tempat yang cocok untuk melindungi dan membudidayakan tumbuhan hutan,   karena   memudahkan   pengawasannya.   Kebun-kebun   pekarangan   (homegarden) memadukan berbagai sumberdaya tanaman asal hutan dengan jenis-jenis tanaman eksotis yang bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari, seperti buah-buahan, sayuran dan tanaman untuk penyedia bumbu dapur (Bhs. Jawa: empon-empon ), tanaman obat, serta jenis tanaman yang diyakini memiliki kegunaan gaib. Sebagai contoh, menurut kepercayaan di Jawa ranting pohon   kelor   (Moringa   pterygosperma   Gaertn.)   dapat   digunakan   untuk   menghilangkan kekebalan seorang yang ber’ilmu’, ranting bambu kuning dapat digunakan untuk mengusir ular, dan sebagainya.
Seperti  telah  disebutkan  di  atas,  kebun  pekarangan  di  Jawa  memadukan  tanaman bermanfaat asal hutan dengan tanaman khas pertanian. Semakin banyak campur tangan manusia membuat kebun itu menjadi semakin artifisial (sistem buatan yang tidak alami). Kekhasan vegetasi hutan seringkali masih bisa ditemukan, misalnya dapat dijumpai berbagai jenis tumbuhan bawah seperti berbagai macam pakis (fern), atau epiphyte (misalnya anggrek liar).
Kekayaan jenisnya bervariasi, beberapa pekarangan yang tidak terlalu banyak campur tangan pemiliknya memiliki keanekaragaman yang cukup tinggi, yang dapat mencapai lebih dari 50 jenis tanaman pada lahan seluas 400 m2.   Bila diperhatikan dari struktur kanopi tajuknya,  kebun-kebun  itu  memiliki  lapisan/strata  tajuk  bertingkat  (multi-strata)  mirip dengan yang dijumpai di hutan. Kemiripan dengan kanopi hutan ini menyebabkan estimasi luasan hutan berdasarkan hasil foto udara menjadi kurang dapat dipercaya.
Sesuai dengan jenis kebunnya, tingkat lapisan tajuk vegetasi dapat dibedakan menjadi 3 sampai 5 tingkat, mulai dari lapisan semak (sayuran, cabai, umbi-umbian), perdu (pisang, pepaya, tanaman hias) hingga lapisan pohon tinggi (sampai lebih 35 m, misalnya damar, durian, duku). Proses reproduksi sistem yang menyerupai hutan ini lebih banyak mengikuti kaidah   alam   daripada   teknik-teknik   budidaya   perkebunan.   Sebagai   contoh,   kasus terbentuknya damar agroforest di Krui (Lihat Box 2). Contoh kasus 2: Kebun damar di Krui, Lampung Barat (De Foresta et al., 2000)
Tanaman yang dominan di agroforest di Pesisir Krui adalah Shorea javanica (jenis Dipterocarpaceae (kelompok meranti). Tanaman ini merupakan pohon besar yang berasal dari hutan setempat, yang menghasilkan getah damar mata kucing bening yang diekspor untuk kebutuhan industri cat . Hingga awal abad XX, pengumpulan getah damar di hutan alam merupakan kegiatan ekonomi utama petani, sementara agroforest yang telah dibangun hanya merupakan semacam sabuk hijau pohon buah-buahan di sekeliling desa dengan luas yang terbatas. Berkurangnya pohon damar di hutan alam, telah mendorong petani melakukan pembudidayaan Shorea javanica di kebun-kebun. Keberhasilan budidaya itu telah mendorong terjadinya transformasi mendasar agroforest tradisional secara besar-besaran, yang diikuti perluasan areal agroforest.
Budidaya damar ini sangat berbeda dengan silvikultur monokultur. Bersama damar, tumbuh pula berbagai jenis pohon buah-buahan, pohon kayu-kayuan, jenis-jenis palem, bambu, dan sebagainya yang sengaja ditanam dan dirawat di kebun. Selain itu terdapat pula sejumlah tumbuhan liar yang berasal dari hutan primer ataupun dari hutan sekunder. Aneka jenis kombinasi yang khas ini menghasilkan berbagai struktur dan fungsi. Bagian kanopi dengan puncak ketinggian sekitar 40 m didominasi oleh pohon damar dan pohon durian. Di bawahnya, terdapat beberapa kelompok pohon buah-buahan seperti duku, manggis, dan rambutan yang memadati ruang pada ketinggian 10 sampai 20 meter. Di antara keduanya, pada ketinggian 20 sampai 25 meter terdapat kelompok lapisan tengah, seperti jenis-jenis Eugenia (jambu-jambuan), Garcinia (manggis-manggisan), dan Parkia (petai- petaian) yang dapat mencapai ketinggian 35 meter. Lapisan terbawah ditumbuhi rerumputan dan semak liar. Masalah praktis yang sering dijumpai di lapangan (misalnya tidak menentunya penyediaan bibit, menurunnya daya tahan bibit, sulitnya infeksi mikoriza pada akar tanaman muda, dsb) dapat diatasi sendiri oleh petani setempat. Petani lebih memilih ‘kebun bibit’ (seed bank) daripada memiliki ‘gudang benih’ (seedling bank).   Dengan menanam bibit dari permudaan alam langsung di kebun akan memberikan kesempatan terjadinya infeksi mikoriza yang lebih besar, dan memudahkan permudaan alam untuk beradaptasi dengan lingkungannya.
Contoh Kasus 2. (Lanjutan)
Bagaimana proses terbentuknya kebun damar? Perkembangan terbentuknya kebun damar disajikan secara skematis pada gambar 5. Pada stadia awal, lahan masih berupa hutan alam baik primer maupun sekunder, atau padang alang-alang yang ditebang dan dibakar. Padi gogo ditanam secara tumpangsari dengan tanaman komersial lainya misalnya kopi, lada dan pohon-pohon pelindung lainnya seperti dadap dan gamal. Pengusahaan tanaman semusim hanya berlangsung 2-3 tahun saja. Bibit pohon yang diperoleh dari kebun petani sendiri (misalnya damar dan pohon buah-buahan) ditanam di antara tanaman pangan. Pepohonan ini   nantinya akan menjadi komponen utama dari sistem agroforest.
Bila pohon damar mulai memproduksi resin (setelah berumur 20 – 25 tahun), petak lahan disiangi namun membiarkan tumbuhan bawah yang berguna tetap hidup. Dengan demikian kebun damar telah melalui beberapa stadia yaitu: tanaman semusim, tanaman komersial, fase non- produktif dan agroforest yang produktif sepenuhnya. Setelah tanaman semusim dipanen terakhir kalinya, kopi dan lada dibiarkan tumbuh selama kurang lebih 8-15 tahun. Permudaan alam lainnya akan tumbuh kembali sehingga akan diperoleh kebun campuran. Pada periode ini kompetisi intensif (antara tanaman semusim dengan pepohonan atau tanaman bawah lainnya) kemungkinan besar akan terjadi. Penanaman tanaman semi-perenial (seperti lada, kopi) merupakan usaha petani dalam meningkatkan pendapatannya sehingga sering menjadi kompetitor terbesar bagi pepohonan.
Dengan demikian pembentukan agroforest mengalami sedikit penundaan waktu. Keuntungan dari sistem agroforest Fungsi ekonomi agroforest di Pesisir Krui terutama adalah produksi damar. Delapan puluh persen pendapatan sebagian besar desa di Pesisir Krui dihasilkan dari kebun-kebun damar. Selain itu kebun damar juga memasok buah-buahan, sayuran, rempah-rempah, gula, kayu bakar, kulit kayu, daun, bambu, dan kayu bangunan.   Dengan aneka produk yang dihasilkan, kebun damar telah menggantikan fungsi hutan dalam ekonomi pedesaan.   Karenanya, agroforest mengurangi kegiatan pengumpulan hasil hutan dari hutan-hutan alam di sekitarnya. Petani membuka hutan hanya untuk kebutuhan produksi makanan pokok, yakni membuka ladang padi: namun seringkali alasan sebenarnya adalah untuk membangun kebun damar yang baru. Sebagai hutan buatan yang dikelola dengan cermat, agroforest dapat memproduksi selain kayu juga kebutuhan sehari-hari lainnya. Dengan berkembangnya agroforest, peran hutan alam sebagai sumber bahan nabati semakin lama semakin menghilang. Bila tuntutan lain terhadap hutan alam, yaitu sebagai cadangan lahan untuk perluasan pertanian juga dapat berkurang, maka upaya perlindungan bisa menjadi lebih efisien.



















Gambar 5.  Tahapan terbentuknya  Kebun Pekarangan di Jawa (De Foresta et al., 2000)
4.  Mengapa Agroforest Perlu Mendapat Perhatian?
Kebun-kebun  agroforest  asli  Indonesia  memperlihatkan  ciri-ciri  yang  pantas  diberi perhatian  dalam  kerangka  pembangunan  pertanian  dan  kehutanan,  khususnya  untuk  daerah-daerah yang kurang subur. Pada daerah-daerah tersebut hanya tanaman tahunan saja yang  dapat  berproduksi  secara  berkelanjutan,  sedangkan  untuk  tanaman  pangan  dan tanaman musiman lain hanya dimungkinkan melalui pemupukan besar-besaran. Berikut ini diuraikan secara ringkas manfaat penerapan sistem agroforestri bagi beberapa pihak/sudut pandang: (1) pertanian, (2) petani, (3) peladang, (4) kehutanan.
4.1  Sudut Pandang Pertanian
Agroforest merupakan salah satu model pertanian berkelanjutan yang tepat-guna, sesuai dengan keadaan petani. Pengembangan pertanian komersial khususnya tanaman semusim menuntut terjadinya perubahan sistem produksi secara total menjadi sistem monokultur dengan masukan energi, modal, dan tenaga kerja dari luar yang relatif besar yang tidak sesuai  untuk  kondisi  petani.  Selain  itu,  percobaan-percobaan  yang  dilakukan  untuk meningkatkan produksi tanaman komersial selalu dilaksanakan dalam kondisi standar yang berbeda dari keadaan yang lazim dihadapi petani.   Tidak mengherankan bila banyak hasil percobaan mengalami kegagalan pada tingkat petani.
Agroforest mempunyai fungsi ekonomi penting bagi masyarakat setempat. Peran utama agroforest   bukanlah   produksi   bahan   pangan,   melainkan   sebagai   sumber   penghasil pemasukan uang dan modal. Misalnya: kebun damar, kebun karet dan kebun kayu manis menjadi andalan pemasukan modal di Sumatra. Bahkan, agroforest seringkali menjadi satu- satunya sumber uang tunai bagi keluarga petani. Agroforest mampu menyumbang 50 % hingga 80 % pemasukan dari pertanian di pedesaan melalui produksi langsungnya maupun tidak  langsung  yang  berhubungan  dengan  pengumpulan,  pemrosesan  dan  pemasaran hasilnya. Di lain pihak sistem-sistem produksi asli setempat (salah satunya agroforest) selalu dianggap sebagai sistem yang hanya ditujukan untuk pemenuhan kebutuhan sendiri saja (subsisten).
Oleh  karena  itu  dukungan  terhadap  pertanian  komersial  petani  kecil  biasanya  lebih diarahkan kepada upaya penataan kembali sistem produksi secara keseluruhan, daripada pendekatan terpadu untuk mengembangkan sistem-sistem yang sudah ada. Agroforest pada umumnya dianggap hanya sebagai "kebun dapur" yang tidak lebih dari sekedar pelengkap sistem pertanian lainnya, di mana produksinya hanya dikhususkan untuk konsumsi  sendiri  dengan  menghasilkan  hasil-hasil  sampingan  seperti  kayu  bakar.  Oleh karena itu, sistem ini kurang mendapat perhatian.

4.2  Sudut Pandang Petani
Keunikan konsep pertanian komersial agroforest adalah karena sistem ini bertumpu pada keragaman struktur dan unsur-unsurnya, tidak terkonsentrasi pada satu spesies saja. Usaha memperoleh produksi komersial ternyata sejalan dengan produksi dan fungsi lain yang lebih luas. Hal ini menimbulkan beberapa konsekuensi menarik bagi petani.
• Aneka hasil kebun hutan sebagai "bank" yang sebenarnya. Pendapatan dari agroforest umumnya dapat menutupi kebutuhan sehari-hari yang diperoleh dari hasil-hasil yang dapat dipanen secara teratur misalnya lateks karet, damar, kopi, kayu manis dan lain-lain. Selain itu, agroforest juga dapat membantu menutup pengeluaran tahunan dari hasil-hasil yang dapat dipanen secara musiman seperti buah-buahan (Gambar 6), cengkeh, pala, dan lain-lain. Komoditas-komoditas lain seperti kayu bahan bangunan juga dapat menjadi sumber uang yang cukup besar meskipun tidak tetap, dan dapat dianggap sebagai cadangan tabungan untuk kebutuhan mendadak. Di beberapa daerah di Indonesia menabung uang tunai masih belum merupakan kebiasaan, maka keragaman bentuk sumber uang sangatlah penting. Keluwesan agroforest juga penting di daerah-daerah di mana kredit sulit didapatkan karena mahal atau tidak ada sama sekali. Semua ini adalah kenyataan umum yang dijumpai di pedesaan di daerah tropis.
• Struktur yang tetap dengan diversifikasi tanaman komersil, menjamin keamanan dan kelenturan pendapatan petani, walaupun sistem ini tidak memungkinkan adanya akumulasi modal secara cepat dalam bentuk aset-aset yang dapat segera diuangkan. Keragaman tanaman melindungi petani dari ancaman kegagalan panen salah satu jenis tanaman atau resiko perkembangan pasar yang sulit diperkirakan. Jika terjadi kemerosotan harga satu komoditas, species ini dapat dengan mudah ditelantarkan saja, hingga suatu saat pemanfaatannya kembali menguntungkan. Proses tersebut tidak menimbulkan gangguan ekologi terhadap sistem kebun. Petak kebun tetap utuh dan produktif dan species yang ditelantarkan akan tetap hidup dalam struktur kebun, dan selalu siap untuk kembali dipanen sewaktu-waktu. Sementara itu spesies-spesies baru dapat diperkenalkan tanpa merombak sistem produksi yang ada.









Gambar 6. Durian: Salah satu hasil tambahan (Foto: De Foresta)
Ciri keluwesan yang lain adalah perubahan nilai ekonomi yang mungkin dialami beberapa spesies. Spesies yang sudah puluhan tahun berada di dalam kebun dapat tiba-tiba mendapat nilai   komersil   baru   akibat   evolusi   pasar,   atau   pembangunan   infrastruktur   seperti pembangunan jalan baru. Hal seperti ini telah terjadi pada buah durian, duku, dan cengkeh serta terakhir kayu ketika kayu dari hutan alam menjadi langka.
• Melalui diversifikasi hasil-hasil sekunder, agroforest menyediakan kebutuhan sehari-hari petani. Agroforest juga berperan sebagai "kebun dapur" yang memasok bahan makanan pelengkap (sayuran, buah, rempah, bumbu). Melalui keaneka-ragaman tumbuhan, agroforest dapat menggantikan peran hutan alam dalam menyediakan hasil-hasil yang akhir-akhir ini semakin langka dan mahal seperti kayu bahan bangunan, rotan, bahan atap, tanaman obat, dan binatang buruan.
4.3  Sudut Pandang Peladang
Kebutuhan tenaga kerja rendah
Agroforest merupakan model peralihan dari perladangan berpindah ke pertanian menetap yang berhasil, murah, menguntungkan, dan lestari. Selain manfaat-manfaat langsung yang dihasilkan agroforest kepada petani kecil, agroforest juga menarik bagi peladang berpindah karena dua hal. Meskipun menurut standar konvensional produktivitas agroforest dianggap rendah,   bila   ditinjau   dari   sisi   alokasi   tenaga   kerja   yang   dibutuhkan   agroforest   lebih menguntungkan  daripada  sistem  pertanian  monokultur.  Penilaian  bahwa  produktivitas agroforest   yang   rendah   juga   disebabkan   kesalahpahaman   terhadap   sistem   yang dikembangkan  petani,  karena  umumnya  hanya  tanaman  utama  yang  diperhitungkan sementara  hasil-hasil  dan  fungsi  ekonomi  lain  diabaikan.  Pembuatan  dan  pengelolaan agroforest hanya membutuhkan nilai investasi dan alokasi tenaga kerja yang kecil.
Hal ini sangat penting terutama untuk daerah-daerah yang ketersediaan tenaga kerja dan uang tunai jauh lebih terbatas dari pada ketersediaan lahan, seperti yang umum terjadi di wilayah- wilayah perladangan berpindah di daerah beriklim tropika basah.
Tidak memerlukan teknik canggih
Selain manfaat ekonomi, perlu juga dijelaskan beberapa ciri penting lain yang membantu pemahaman   terhadap   hubungan   positif   antara   peladang   berpindah   dan   agroforest. Pembentukan agroforest berhubungan langsung dengan kegiatan perladangan berpindah. Bentuk  ladang  berpindah  mengalami  perkembangan  dengan  adanya  penanaman  pohon yang  oleh  penduduk  setempat  dikenal  bernilai  ekonomi  tinggi.  Tindakan  yang  sangat sederhana ini dapat dilakukan oleh peladang berpindah di semua daerah tropika basah. Agroforest ini dapat dikelola tanpa teknologi yang canggih tetapi bertumpu sepenuhnya pada  pengetahuan  tradisional  peladang  mengenai  lingkungan  hutan  mereka.
Hasilnya, terdapat perbedaan yang sangat nyata antara sistem agroforest yang lebih menetap dengan sistem peladangan berpindah yang biasanya melibatkan pemberaan dan membuka lahan pertanian  baru  di  tempat  lain.  Ladang-ladang  yang  diberakan  untuk  sementara  waktu, selanjutnya   ditanami   kembali   dengan   pepohonan   untuk   diwariskan   pada   generasi berikutnya. Kedudukan komersil tanaman pohon dan nilai ekonomisnya sebagai modal dan harta warisan dapat mencegah terjadinya pembukaan ladang-ladang baru, dengan demikian lahan tersebut menjadi terbebas dari ancaman perladangan berpindah lainnya.
4.4  Sudut Pandang Kehutanan
4.4.1   Mekanisme sederhana untuk mengelola keanekaragaman
Seperti halnya pada semua lahan pertanian, sebagian terbesar agroforest tercipta melalui tindakan  penebangan  dan  pembakaran  hutan.  Perbedaan  agroforest  dengan  budidaya pertanian pada umunya terletak pada tindakan yang dilakukan pada tumbuhan pioner yang berasal dari hutan.  Pada budidaya pertanian, keberadaan tumbuhan perintis alami dianggap sebagai gulma yang mengancam produksi tanaman pokok. Pada sistem agroforest, petani tidak melakukan pembabatan hutan kembali, karena mereka menggunakan ladang sebagai lingkungan pendukung proses pertumbuhan pepohonan.
Proses pembentukan agroforest seperti ini masih dapat dijumpai di Sumatra antara lain di Pesisir Krui (Propinsi Lampung) untuk  agroforest  damar,  di  Jambi  untuk  agroforest  karet.  Oleh  karena  pada  sistem agroforest tidak melibatkan penyiangan intensif, maka kembalinya spesies-spesies pionir dapat mempertahankan sebagian spesies-spesies asli hutan.
4.4.2   Pengembangan hasil hutan non kayu
Sejak   tahun   1960-an   bentuk   pengelolaan   hutan   yang   dikembangkan   terpaku pada pengusahaan kayu gelondongan. Kayu gelondongan merupakan unsur dominan hutan yang relatif sulit diperbaharui. Eksploitasinya mengakibatkan degradasi drastis seluruh ekosistem hutan.  Hal  ini  memunculkan  suatu  usulan  agar  pihak-pihak  kehutanan  dalam  arti  luas mengalihkan  perhatiannya  pada  hasil  hutan  non  kayu  (disebut  juga  hasil  hutan  minor) misalnya damar, karet remah dan lateks, buah-buahan, biji-bijian, kayu-kayu harum, zat pewarna,  pestisida alam, dan bahan kimia untuk industri obat. Ilustrasi yang disajikan pada Gambar 7 adalah pemanenan hasil hutan non-kayu berupa getah damar selain produksi kayu yang cukup menarik petani di daerah Krui, Lampung Barat. Pemanenan hasil hutan non-kayu merupakan pengembangan sumberdaya yang dapat mendukung konservasi hutan karena mengakibatkan kerusakan yang lebih kecil dibandingkan dengan pemanenan kayu.







Gambar 7.  Pemanenen getah damar (Michon dan de Foresta, 2000).
Agroforest di Indonesia, yang bertumpu pada hasil hutan non kayu, merupakan salah satu alternatif menarik terhadap domestikasi monokultur yang lazim dikerjakan. Pengelolaan agroforest tidak ekslusif pada satu sumber daya yang terpilih saja, tetapi memungkinkan kehadiran sumber daya lain. Selain itu agroforest merupakan strategi masyarakat sekitar hutan untuk memiliki kembali sumber daya hutan yang pernah hilang atau terlarang bagi mereka.  Agroforest  memungkinkan  adanya  pelestarian  wewenang  dan  tanggung  jawab masyarakat  setempat  atas  seluruh  sumber  daya  hutan.  Hal  ini  merupakan  sifat  utama agroforest, namun sifat tersebut mungkin menjadi kendala utama pengembangan sistem agroforest  oleh  badan-badan  pembangunan  resmi  terutama  kalangan  kehutanan,  yang merasa  khawatir  akan  kehilangan  kewenangan  menguasai  sumber  daya  yang  selama  ini dianggap sebagai domain ekslusif mereka.
4.4.3   Model alternatif produksi kayu
Agroforest  berbasis  pepohonan  khusus  penghasil  kayu  di  Indonesia  masih  belum  ada. Namun karena berciri pembangunan kembali hutan, agroforest merupakan sumber pasokan kayu berharga yang sangat potensial yang dapat dimanfaatkan oleh penduduk setempat. Sejauh ini kayu-kayu yang dihasilkan dalam agroforest masih diabaikan dalam perdagangan nasional. Pohon yang ditanam di agroforest (buah-buahan, karet dll) sering pula memasok kayu bermutu tinggi dalam jumlah besar, sehingga ada pasokan kayu gergajian dan kayu kupas yang selalu siap digunakan.  Di daerah Krui (Lampung), pohon damar yang termasuk golongan  meranti  sangat  mendominasi  kebun  damar,  dengan  kepadatan  yang  beragam. Dalam  setiap  hektar  agroforest  terdapat  antara  150  sampai  250  pohon  yang  dapat dimanfaatkan.   Kayu-kayu  itu  biasanya  dianggap  sebagai  produk  sampingan  yang  tidak mempunyai  nilai  ekonomi,  bukan  karena  teknologi  yang  rendah,  tetapi  karena  belum dikenali pasar.
  Kalangan  kehutanan  mengelompokkan  kayu  berdasarkan  kelas  keawetan  dan  kekuatan. Klasifikasi asli tersebut banyak mengalami revisi, karena semakin langkanya hutan yang mengandung  jenis  pohon  yang   menguntungkan. Karena  kelas  I  sudah  dieksploitasi berlebihan  dan  menjadi  langka,  maka  kelas  II  menjadi  kelas  I  dan  seterusnya.   Pohon meranti  misalnya,  belakangan  ini  merupakan  jenis  kayu  kelas  utama  di  Asia  Tenggara, padahal  pada  tahun  1930-an  hampir  tidak  memiliki  nilai  komersil.  Contoh  yang  lebih mutakhir adalah kayu karet, hingga tahun 1970-an masih dianggap tidak berharga, tetapi dewasa   ini   menduduki   tempat   penting   dalam   pasar   kayu   Asia.   Sejalan   dengan perkembangan  teknologi  transformasi  dan  pemanfaatan  kayu,  ciri-ciri  kayu  bahan  baku semakin tidak penting.
Untuk  memenuhi  permintaan  besar  di  tingkat  regional,  beberapa  tahun  belakangan  ini berkembang budidaya pohon kayu, terutama surian, bayur, dan musang dalam agroforest di bsekeliling danau Maninjau, Sumatera Barat.   Di daerah Krui, Lampung, terjadi pemaduan sungkai di kebun damar. Jenis pohon perintis ini yang sebelumnya tidak bernilai, baru sejak 1990-an mulai ditanam di kebun. Dengan meningkatnya permintaan kayu sungkai untuk bangunan pada tingkat nasional, pohon sungkai kini ditanam dan dirawat dengan baik oleh petani.
Kajian-kajian  kuantitatif  lebih  lanjut  tentu  saja  masih  dibutuhkan  untuk  menentukan potensi  pepohonan  dan  pengelolaan  yang  optimal  dalam  agroforest,  dengan  tetap memperhitungkan hasil-hasil lain. Dampak sampingan penjualan kayu perlu juga dikaji dari segi sosial, ekonomi dan ekologi. Dengan memenuhi persyaratan ketersediaan pasokan yang besar dan lestari, agroforest merupakan salah satu sumberdaya kayu tropika di masa depan.
Dengan mudah sumber daya ini dapat diperkaya dengan jenis-jenis pohon bernilai tinggi, sebab kantung-kantung ekologi agroforest yang beragam merupakan lingkungan ideal bagi pohon berharga yang membutuhkan kondisi yang mirip dengan hutan alam. Selain itu tidak seperti   dugaan   umum,   sasaran   utama   agroforest   di   Indonesia   bukan   cuma   untuk pemenuhan kebutuhan sendiri tetapi untuk menghasilkan uang. Dengan orientasi pasar, agroforest  mampu  dengan  cepat  memadukan  pola  budidaya  baru,  asalkan  hasilnya menguntungkan pemiliknya.

Mungkinkah agroforest penghasil kayu dikembangkan?
Pengembangan agroforestri komplek sebagai sumber kayu tropika bernilai tinggi tampaknya tidak  akan  memenuhi  hambatan  yang  berarti,  jika  dilakukan  reorientasi  pasar  yang memberikan peluang bagi kayu asal agroforest untuk memasuki pasar nasional. Keputusan reorientasi terkait erat dengan kondisi nyata pemanfaatan hutan alam di tiap negara tropika, dan  karenanya  tergantung  pada  tujuan/kemauan  politik.  Perwujudan  kemauan  politik semacam  ini  diharapkan  terjadi  secepatnya,  karena  sangat  dibutuhkan  dalam  rangka menghadapi
a) produksi kayu tropika (kayu pertukangan dan kayu bulat) pada masa transisi dari  sistim  penebangan  hutan  alam  menuju  sistim  budidaya  menetap  untuk  wilayah pedesaan.
b) pelestarian alam yang akan muncul akibat masuknya kayu hasil agroforest ke pasar.
Menyertai usaha pencegahan perusakan hutan dalam jangka panjang, integrasi pengelolaan pepohonan  penghasil  kayu  ke  dalam  agroforest  akan  mengurangi  tekanan  terhadap hilangnya/perusakan hutan alam yang masih tersisa. Selain meringankan kesulitan dalam mendapatkan kayu bangunan akibat penurunan sumber kayu dari hutan alam, perluasan pangsa pasar ke jenis kayu asal agroforest tersebut akan memacu terjadinya peningkatan pembangunan masyarakat pedesaan. Peningkatan nilai ekonomi agroforest ini dan adanya integrasi   pengelolaan   kayu   komersil   diharapkan   dapat   merangsang   perluasan   areal agroforest,  yang  akan  mendorong  pelestarian  lahan  dan  keanekaragaman  hayati  di  luar hutan alam.


4.4.4   Struktur agroforest dan pelestarian sumber daya hutan
Agroforest  memainkan  peran  penting  dalam  pelestarian  sumberdaya  hutan  baik  nabati maupun hewani karena struktur dan sifatnya yang khas. Agroforest menciptakan kembali arsitektur  khas  hutan  yang  mengandung  habitat  mikro,  dan  di  dalam  habitat  mikro  ini sejumlah tanaman hutan alam mampu bertahan hidup dan berkembang biak. Kekayaan flora semakin besar, jika di dekat kebun terdapat hutan alam yang berperan sebagai sumber (bibit) tanaman. Bahkan ketika hutan alam sudah hampir lenyap sekalipun, warisan hutan masih  mampu  terus  berkembang  dalam  kelompok  besar:  misalnya  kebun  campuran  di Maninjau melindungi berbagai tanaman khas hutan lama di dataran rendah, padahal hutan lindung yang terletak di dataran lebih tinggi tidak mampu menyelamatkan tanaman-tanaman tersebut.
Di  pihak  lain,  agroforest  merupakan  struktur  pertanian  yang  dibentuk  dan  dirawat. Tanaman bermanfaat yang umum dijumpai di hutan alam menghadapi ancaman langsung karena  daya  tarik  manfaatnya.  Dewasa  ini  sumber  daya  hutan  dikuras  tanpa  kendali. Berbeda dengan kebun agroforest, bagi petani, agroforest merupakan kebun bukan hutan.
Agroforest merupakan warisan sekaligus modal produksi. Sumberdayanya, baik yang tidakb maupun yang sengaja ditanam, dimanfaatkan dengan selalu mengingat kelangsungan dan kelestarian kebun. Pohon di hutan dianggap tidak ada yang memiliki.  Sebaliknya, pohon di kebun ada pemiliknya sehingga pohon tersebut mendapat perlindungan yang lebih efektif daripada yang terdapat di   hutan negara. Sumber daya hutan di dalam agroforest dengan demikian turut berperan dalam mengurangi tekanan terhadap sumber daya alam. Secara tidak langsung agroforest turut melindungi hutan alam.
Aneka kebun campuran di pedesaan di Jawa mempunyai peranan penting bagi pelestarian kultivar pohon (tradisional) buah-buahan dan tanaman pangan. Karena kendala ekonomi dan keterbatasan ketersediaan lahan, maka kebun tersebut tidak dapat berfungsi sebagai tempat berlindung jenis tanaman yang tidak bernilai ekonomi bagi petani.
Di Sumatera dan Kalimantan,   agroforest   masih   mampu   menawarkan   pemecahan   masalah   pelestarian tanaman hutan alam dan sekaligus dapat diterima pula dari sudut ekonomi (Michon dan de Foresta (1995). Adanya perubahan sosial ekonomi dapat mempengaruhi sifat dan susunan kebun, sehingga dikhawatirkan banyak spesies yang terancam kepunahan. Pada gilirannya sumberdaya tersebut akan punah dan usaha penyelamatannya belum terbayangkan. Apakah seluruh sumberdaya genetik yang ada dalam agroforest dapat disimpan dalam lahan-lahan khusus atau bank benih?

Upaya-upaya keberhasilan perlindungan alam
Untuk meningkatkan keberhasilan perlindungan terhadap sumber daya alam, maka petani harus  dilibatkan  pada  setiap  usaha  pelestarian  alam,  misalnya  dengan  memberikan pengakuan terhadap agroforest yang sudah ada dan melaksanakan budidaya agroforest di pinggiran  kawasan taman-taman nasional. Upaya melestarikan alam harus sekaligus dapat memenuhi  kebutuhan  penduduk  setempat.  Gagasan  ini  bukan  khayalan,  karena  secara tradisional telah dirintis oleh petani agroforest. Pada akhirnya agroforest di daerah tropika merupakan lahan berharga bagi eksplorasi genetik dan etno-botani. Pengetahuan petani pengelola agroforest seyogyanya tidak lagi diremehkan oleh para pengelola hutan.
5.   Kelemahan dan Tantangan Agroforest
5.1  Kelemahan
Kesulitan visual
Keberagaman bentuk, kemiripan dengan vegetasi hutan alam, dan kesulitan membedakannya dalam penginderaan jauh (remote sensing) menjadikan bentang hamparan agroforest  sulit  dikenali.  Kebanyakan  agroforest  dalam  peta-peta  resmi  diklasifikasikan sebagai hutan sekunder, hutan rusak, atau belukar, oleh karena itu biasanya disatukan ke dalam kelompok lahan yang menjadi target rehabilitasi lahan dan hutan.
Kesulitan mengukur produktivitas
Ahli ekonomi pertanian terbiasa dengan perhatian hanya kepada jenis tanaman dan pola penanaman yang teratur rapi.   Biasanya mereka enggan memberi perhatian terhadap nilai pepohonan  dan  tanaman  non-komersial. Mereka  juga  biasanya  tidak  memiliki  latar belakang   yang   cukup   untuk   mengenali   manfaat   ekonomi   spesies   pepohonan   dan herba/semak.
Kurangnya pengetahuan tentang pengelolaan pohon pada lahan pertanian. Adanya penyisipan pohon di antara tanaman semusim, akan menimbulkan masalah yang sering merugikan petani karena kurangnya pengetahuan petani akan adanya interaksi antar tanaman.




5.2  Ancaman Keberlanjutan
De   Foresta   et   al.   (2000)   mengemukakan   bahwa   keberlanjutan   dari   agroforest   ini menghadapi beberapa ancaman antara lain sebagai berikut :
Kesulitan merubah pandangan ahli agronomi dan kehutanan. Besarnya  jenis  dan  ketidakteraturan  tanaman  dalam  agroforest  membuatnya  cenderung diabaikan. Kebanyakan ahli pertanian dan kehutanan yang sudah sangat terbiasa dengan keteraturan sistem monokultur dan agroforestri sederhana menganggap ketidakteraturan dan keberagaman tanaman ini sebagai tanda kemalasan petani. Kebanyakan ahli agronomi dan kehutanan yang akrab dengan pola pertanian sederhana dan keaslian hutan alam masih sulit untuk mengakui bahwa agroforest adalah sistem usahatani yang produktif.
Agroforest adalah sistem kuno (tidak modern)
Banyak  kalangan  memandang  agroforest  sebagai  sesuatu  yang  identik  dengan  pertanian primitif  yang  terbelakang,  sama  sekali  tidak  patut  dibanggakan.  Padahal,  agroforest merupakan wujud konsep petani, proses adaptasi dan inovasi yang terus menerus yang berkaitan dengan perubahan ekologi, keadaan sosial ekonomi, dan perkembangan pasar.
Sistem agroforest yang ada saat ini merupakan karya modern dari sejarah panjang adaptasi dan inovasi, uji coba berulang-ulang, pemaduan spesies baru dan strategi agroforestri baru.
Kepadatan penduduk
Pengembangan agroforest membutuhkan ketersediaan luasan lahan, karenanya agroforest sulit berkembang di daerah-daerah yang sangat padat penduduknya. Ada kecenderungan bahwa   peningkatan   penduduk   menyebabkan   konversi   lahan   agroforest   ke   bentuk penggunaan lain yang lebih menguntungkan dalam jangka pendek.
Penguasaan lahan
Luas agroforest di Indonesia mencapai jutaan hektar, tetapi tidak secara resmi termasuk ke dalam  salah  satu  kategori  penggunaan  lahan.  Hampir  semua  petani  agroforest  tidak memiliki bukti kepemilikan yang resmi atas lahan mereka. Banyak areal agroforest yang dinyatakan berada di dalam kawasan hutan negara, atau dialokasikan kepada perusahaan perkebunan  besar  dan  proyek  pembangunan  besar  lainnya.  Ketidakpastian  kepemilikan jangka ini berakibat keengganan petani untuk melanjutkan sistim pengelolaan yang sekarang sudah mereka bangun.

Ketiadaan data akurat
Kecuali untuk agroforest karet dan sebagian kecil lainnya, belum ada upaya serius untuk mendapatkan data yang akurat mengenai keberadaan/luasan agroforest yang tersebar di hampir  seluruh  kepulauan  Indonesia.  Akibatnya,  belum  ada  upaya  untuk  memberikan dukungan  pembangunan  terhadap  agroforest  tersebut,  seperti  yang  diberikan  terhadap sawah,  kebun  monokultur  (cengkeh,  kelapa,  kopi,  dan  lain-lain),  atau  Hutan  Tanaman Industri (HTI).

Baca Selanjutnya » Makalah Agroforestry